SAMADHI PANARIK UTTAMOPADESA

samadhi panarik
Menarik Cipta dari Godaan Dunia

Pengertian Samadhi Panarik.
Samadhi Panarik merupakan tahap pertama dalam Nawa Samadhi Uttamopadesa yang menjadi awal perjalanan manusia untuk menata kembali hubungan dirinya dengan berbagai hal yang dapat memengaruhi kejernihan cipta, ketenteraman rasa, dan kelurusan karsa.

Tahap ini disebut Panarik karena manusia mulai belajar menarik cipta dari berbagai keterikatan yang selama ini membuat pikirannya mudah terseret oleh keinginan, pamrih, kenikmatan, kemuliaan, harta, kedudukan, penghormatan, maupun berbagai dorongan duniawi yang tidak selalu selaras dengan jalan kehidupan yang benar.

Dalam tahap ini, yang ditarik bukanlah tubuh manusia dari kehidupan dunia, melainkan cipta dari keterikatan terhadap segala sesuatu yang berada di dalam kehidupan dunia. Manusia tetap melihat, mendengar, merasakan, bekerja, berhubungan dengan sesama, membina keluarga, mencari penghidupan, dan menjalankan kewajiban sebagaimana mestinya, tetapi hubungan tersebut mulai dijalani dengan kesadaran yang berbeda karena dunia tidak lagi dibiarkan menjadi penguasa atas cipta.

Dengan demikian, Samadhi Panarik tidak mengajarkan manusia untuk membenci dunia ataupun menganggap kehidupan duniawi sebagai sesuatu yang harus ditinggalkan, melainkan mengajarkan agar manusia mampu menempatkan segala sesuatu sesuai dengan kedudukannya sehingga harta tidak menjadi tujuan tertinggi, kedudukan tidak menjadi ukuran kemuliaan diri, penghormatan tidak menjadi kebutuhan batin, dan kenikmatan tidak menjadi penguasa terhadap setiap keputusan yang diambil.

Mengapa Cipta Perlu Ditarik?
Cipta manusia memiliki kemampuan untuk memperhatikan, menimbang, membayangkan, menginginkan, dan memberikan makna terhadap berbagai hal yang ditemuinya dalam kehidupan, sehingga ketika cipta terus-menerus diarahkan kepada sesuatu yang bersifat duniawi tanpa pengendalian, manusia dapat semakin mudah terikat oleh apa yang dipikirkan dan diinginkannya.

Keterikatan tersebut sering kali tidak muncul dalam bentuk yang kasar, karena seseorang dapat merasa bahwa dirinya hanya sedang mengejar sesuatu yang dianggap baik, padahal di balik keinginan tersebut terdapat pamrih yang semakin kuat, seperti keinginan untuk memiliki lebih banyak, memperoleh kedudukan yang lebih tinggi, mendapatkan pengakuan, dipuji oleh orang lain, atau merasa lebih unggul dibandingkan sesamanya.

Ketika keinginan semacam itu semakin menguasai cipta, manusia menjadi sulit merasakan ketenteraman karena keadaan batinnya terus bergantung kepada sesuatu yang berada di luar dirinya.

Ketika mendapatkan apa yang diinginkan, ia merasa senang, tetapi ketika kehilangan atau tidak memperoleh apa yang diharapkan, ketenteramannya ikut terguncang.

Samadhi Panarik dimulai ketika manusia menyadari keadaan tersebut dan mulai belajar menarik cipta dari keterikatan yang berlebihan, bukan dengan cara memusuhi dunia, melainkan dengan memahami bahwa segala sesuatu di dunia memiliki sifat sementara dan tidak layak dijadikan sandaran utama kehidupan.

Panarik Bukan Berarti Meninggalkan Dunia.
Salah satu hal penting dalam memahami Samadhi Panarik adalah membedakannya dari sikap menjauhkan diri dari kehidupan.

Panarik tidak berarti manusia harus meninggalkan pekerjaan, keluarga, masyarakat, harta, atau tanggung jawabnya, karena kehidupan tetap harus dijalani sebagaimana adanya dan setiap manusia tetap memiliki kewajiban untuk menjaga keberlangsungan hidupnya serta memberikan manfaat kepada sesama.

Manusia tetap boleh memiliki harta, memiliki kedudukan, menikmati hasil kerja, memperoleh penghormatan, dan menggunakan berbagai fasilitas kehidupan selama semua itu tidak menguasai cipta dan tidak membuat manusia kehilangan arah hidupnya.

Perbedaannya terletak pada keterikatan, karena orang yang belum memahami Panarik dapat menjadikan harta sebagai sumber harga dirinya, sedangkan orang yang mulai menjalani Panarik melihat harta sebagai sarana yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan memberikan manfaat.

Demikian pula kedudukan tidak lagi dipandang sebagai bukti bahwa seseorang lebih tinggi daripada orang lain, melainkan sebagai tanggung jawab yang harus dijalankan dengan benar, sementara penghormatan tidak lagi menjadi sesuatu yang harus dikejar karena nilai manusia tidak ditentukan oleh seberapa banyak orang lain memujinya.

Menarik Cipta dari Pamrih.
Salah satu inti Samadhi Panarik adalah belajar mengenali pamrih yang bekerja di dalam diri, karena pamrih dapat membuat tindakan yang tampaknya baik menjadi bercampur dengan keinginan untuk memperoleh keuntungan pribadi.

Seseorang dapat menolong orang lain, tetapi diam-diam mengharapkan pujian, dapat bekerja dengan tekun tetapi semata-mata ingin mendapatkan pengakuan, atau dapat melakukan kebaikan tetapi merasa kecewa ketika tidak dihargai, sehingga tindakan yang terlihat baik tersebut masih menunjukkan bahwa cipta belum sepenuhnya bebas dari keterikatan.

Panarik tidak menuntut manusia menjadi tanpa keinginan dalam sekejap, melainkan mengajarkan manusia untuk melihat keinginannya sendiri dengan jujur dan memahami mana keinginan yang memang diperlukan untuk menjalani kehidupan dan mana keinginan yang tumbuh dari pamrih pribadi.

Semakin seseorang mampu mengenali pamrihnya, semakin mudah ia melepaskan keterikatan yang tidak diperlukan, sehingga cipta perlahan menjadi lebih ringan dan tidak terus-menerus dipenuhi oleh tuntutan terhadap dunia.

Hubungan Panarik dengan Cipta, Rasa, dan Karsa.
Samadhi Panarik terutama dimulai dari cipta, tetapi dampaknya tidak berhenti pada cipta karena perubahan dalam cara berpikir akan memengaruhi rasa dan karsa manusia.

Ketika cipta tidak lagi terus-menerus mengejar sesuatu yang berlebihan, rasa menjadi lebih tenteram karena tidak selalu dipaksa untuk mendapatkan apa yang diinginkan, sementara karsa menjadi lebih mantap karena tindakan tidak lagi digerakkan oleh dorongan sesaat yang muncul dari ketamakan, kesombongan, iri hati, ataupun kebutuhan untuk memperoleh pengakuan.

Oleh karena itu, Panarik dapat dipahami sebagai tahap awal penyelarasan tiga unsur tersebut, karena manusia mulai belajar agar apa yang dipikirkan, apa yang dirasakan, dan apa yang dilakukan tidak terus-menerus berjalan ke arah yang berbeda.

Cipta yang mulai ditarik dari keterikatan memberikan ruang bagi rasa untuk menjadi lebih tenang dan memberikan kesempatan kepada karsa untuk memilih tindakan yang lebih selaras dengan kebajikan.

Memandang Dunia dengan Kebijaksanaan.
Samadhi Panarik tidak mengubah dunia, tetapi mengubah cara manusia berhubungan dengan dunia. Dunia tetap memiliki harta, kedudukan, kesenangan, persaingan, pujian, penghormatan, kehilangan, keberhasilan, dan kegagalan, tetapi manusia tidak lagi membiarkan seluruh keadaan tersebut menentukan nilai dirinya.

Dunia kemudian dipandang dengan kebijaksanaan, bukan dengan keterikatan, sehingga apa yang dimiliki dapat digunakan dengan baik tanpa membuat manusia merasa memilikinya secara mutlak.

Segala sesuatu yang berada dalam kehidupan dipahami sebagai bagian dari perjalanan yang memiliki keterbatasan dan sifat sementara, sedangkan Sang Sumber Panguripan dipahami sebagai asal seluruh kehidupan yang menjadi dasar orientasi manusia dalam menjalani hidup.

Pemahaman tersebut tidak membuat manusia menjadi pasif, tetapi justru membuatnya lebih bertanggung jawab karena apa yang dimiliki tidak digunakan semata-mata untuk memenuhi kepentingan diri, melainkan dapat diarahkan kepada kebaikan.

Panarik sebagai Awal Kejernihan.
Selama cipta masih dikuasai oleh berbagai keinginan dan keterikatan, manusia akan sulit mengamati dirinya sendiri dengan jernih karena perhatian terus terseret oleh objek yang diinginkan maupun hal-hal yang ditakutkan akan hilang.

Karena itu, Samadhi Panarik menjadi landasan bagi Samadhi Pamawas. Setelah manusia mulai mampu menarik cipta dari berbagai keterikatan, ia memiliki ruang batin yang lebih luas untuk mengamati gerak dirinya sendiri.

Pada tahap Pamawas, manusia mulai melihat bagaimana pikiran, perasaan, keinginan, dan tindakan muncul di dalam dirinya, sedangkan Panarik merupakan tahap yang mempersiapkan keadaan tersebut dengan mengurangi kekuasaan dunia terhadap cipta.

Dengan demikian, Panarik bukan sekadar tahap pertama dalam urutan Nawa Samadhi, melainkan dasar yang memungkinkan tahap-tahap berikutnya berkembang secara wajar.

Buah Samadhi Panarik dalam Kehidupan.
Keberhasilan Samadhi Panarik dapat dilihat dari perubahan kehidupan sehari-hari, bukan dari pengalaman khusus ketika seseorang berada dalam keheningan.

Manusia yang mulai menghayati Panarik akan semakin mampu menerima keberhasilan tanpa menjadi sombong dan menghadapi kegagalan tanpa kehilangan arah, karena dirinya tidak lagi sepenuhnya bergantung kepada hasil yang diperoleh dari dunia.

Ia juga semakin mampu menggunakan harta tanpa diperbudak oleh harta, menjalankan kedudukan tanpa merasa lebih tinggi daripada sesama, menerima penghormatan tanpa menjadikannya kebutuhan batin, serta menghadapi kehilangan tanpa membiarkan kehilangan tersebut menghancurkan ketenteraman dirinya.

Semua itu menunjukkan bahwa cipta mulai memiliki kebebasan dari keterikatan yang berlebihan sehingga rasa menjadi lebih tenteram dan karsa lebih mudah diarahkan kepada kebajikan.

Pada akhirnya, Samadhi Panarik mengajarkan satu hal mendasar, yaitu bahwa manusia tidak harus meninggalkan dunia untuk menemukan ketenteraman, tetapi perlu belajar agar dunia tidak menguasai cipta.

Ketika manusia mampu hidup di tengah dunia tanpa diperbudak oleh keinginan duniawi, maka ia mulai memiliki kebebasan untuk melihat kehidupan secara lebih jernih, menjalankan tanggung jawab dengan lebih bijaksana, dan mengarahkan seluruh karsanya kepada kebaikan.

Dari sinilah perjalanan menuju Samadhi Pamawas dimulai, karena cipta yang telah mulai terbebas dari keterikatan menjadi lebih siap untuk mengamati dirinya sendiri dan mengenali kenyataan kehidupan dengan lebih jernih.

FAQ - Samadhi Panarik Uttamopadesa.
1. Apa yang dimaksud dengan Samadhi Panarik?
Samadhi Panarik adalah tahap pertama Nawa Samadhi Uttamopadesa ketika manusia mulai belajar menarik cipta dari keterikatan terhadap berbagai godaan dunia, keinginan berlebihan, pamrih, harta, kedudukan, kemuliaan, dan penghormatan.

2. Apakah Samadhi Panarik berarti harus meninggalkan dunia?
Tidak, karena Panarik bukan ajaran untuk meninggalkan dunia, pekerjaan, keluarga, harta, ataupun masyarakat, melainkan latihan untuk menjalani semuanya tanpa membiarkan keterikatan terhadap hal-hal tersebut menguasai cipta.

3. Apakah memiliki harta bertentangan dengan Samadhi Panarik?
Tidak, karena yang menjadi persoalan bukan keberadaan harta, melainkan keterikatan manusia terhadap harta dan menjadikannya sebagai ukuran utama kebahagiaan, harga diri, atau kemuliaan.

4. Apa yang harus ditarik dalam Samadhi Panarik?
Yang ditarik adalah cipta dari keterikatan dan dorongan yang membuat manusia kehilangan kejernihan, bukan tubuh manusia dari kehidupan dunia ataupun dari tanggung jawab yang harus dijalankannya.

5. Mengapa Panarik menjadi tahap pertama?
Panarik menjadi tahap pertama karena manusia perlu mengurangi keterikatan terlebih dahulu sebelum mampu mengamati gerak batinnya dengan lebih jernih dalam Samadhi Pamawas.

6. Apa hubungan Samadhi Panarik dengan cipta, rasa, dan karsa?
Panarik dimulai dengan menarik cipta dari keterikatan, kemudian ketenteraman rasa mulai tumbuh dan karsa menjadi lebih mudah diarahkan kepada tindakan yang selaras dengan kebajikan.

7. Bagaimana mengetahui bahwa seseorang mulai mengalami buah Samadhi Panarik?
Buahnya dapat dilihat dari perilaku yang semakin tidak mudah dikuasai oleh pamrih, tidak berlebihan dalam mengejar harta atau penghormatan, lebih mampu menerima keadaan, dan semakin bijaksana dalam menggunakan apa yang dimilikinya.

8. Apakah Samadhi Panarik berarti tidak boleh memiliki keinginan?
Tidak, karena manusia tetap membutuhkan keinginan untuk menjalani kehidupan, sedangkan yang perlu dikendalikan adalah keinginan yang berlebihan dan keterikatan yang membuat cipta kehilangan kebebasannya.

9. Apa hubungan Samadhi Panarik dengan Samadhi Pamawas?
Samadhi Panarik merupakan persiapan menuju Samadhi Pamawas, karena cipta yang mulai terbebas dari keterikatan akan lebih mudah diarahkan untuk mengamati gerak cipta, rasa, dan karsa di dalam diri.

10. Apa tujuan akhir dari Samadhi Panarik?
Tujuan Panarik adalah membebaskan cipta dari keterikatan yang berlebihan agar manusia dapat memandang kehidupan dengan lebih jernih, menjalankan tanggung jawab dengan bijaksana, serta mempersiapkan diri menuju tahap samadhi berikutnya.

Komentar