Pengamatan Batin dalam Nawa Samadhi Uttamopadesa
Pengertian Samadhi Pamawas.
Samadhi Pamawas merupakan tahap kedua dalam Nawa Samadhi Uttamopadesa yang melanjutkan proses pemurnian diri setelah manusia mulai mampu menarik cipta dari berbagai keterikatan duniawi melalui Samadhi Panarik.
Jika Panarik mengajarkan manusia untuk tidak membiarkan cipta dikuasai oleh godaan, keinginan berlebihan, pamrih, harta, kedudukan, maupun penghormatan, maka Pamawas mengarahkan cipta yang mulai terbebas tersebut untuk melihat dan mengamati keadaan dirinya sendiri secara lebih jernih.
Istilah Pamawas mengandung makna pengamatan, sehingga inti tahap ini adalah kemampuan manusia untuk memperhatikan seluruh gerak yang berlangsung di dalam dirinya tanpa terburu-buru mengikuti setiap dorongan yang muncul.
Manusia mulai belajar melihat bagaimana pikiran terbentuk, bagaimana perasaan bergerak, bagaimana keinginan muncul, serta bagaimana semua itu kemudian memengaruhi tindakan yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan demikian, Samadhi Pamawas bukan sekadar kegiatan memusatkan pikiran pada satu objek tertentu, melainkan proses mengenali diri melalui pengamatan yang terus-menerus terhadap cipta, rasa, dan karsa.
Pengamatan tersebut dilakukan dengan sikap jernih dan tidak memihak sehingga manusia tidak langsung membenarkan apa yang muncul di dalam dirinya hanya karena sesuatu itu berasal dari pikirannya sendiri.
Dari Menarik Cipta Menuju Mengamati Diri.
Samadhi Pamawas tidak dapat dipisahkan dari Samadhi Panarik karena kedua tahap tersebut memiliki hubungan yang berkesinambungan. Pada Panarik, manusia mulai menarik cipta dari berbagai keterikatan yang membuat dirinya mudah terseret oleh dunia, sedangkan pada Pamawas manusia menggunakan cipta yang mulai lebih mantap tersebut untuk melihat keadaan dirinya sendiri.
Selama cipta masih dipenuhi oleh keinginan yang berlebihan, perhatian manusia akan lebih banyak tertuju kepada sesuatu yang berada di luar dirinya. Ia sibuk mengejar apa yang diinginkan, mempertahankan apa yang dimiliki, mencari penghormatan, menghindari kehilangan, atau memikirkan bagaimana memperoleh pengakuan dari orang lain.
Ketika keterikatan tersebut mulai berkurang, perhatian dapat diarahkan kembali kepada diri sendiri sehingga manusia mulai melihat bahwa berbagai kegelisahan yang dialaminya tidak selalu berasal dari keadaan di luar, tetapi sering kali muncul dari cara cipta, rasa, dan karsa menanggapi keadaan tersebut.
Pada titik inilah pengamatan batin menjadi penting karena manusia tidak lagi sekadar berusaha mengubah keadaan di luar dirinya, tetapi mulai belajar memahami gerak yang berlangsung di dalam dirinya.
Mengamati Cipta, Rasa, dan Karsa.
Pengamatan dalam Samadhi Pamawas mencakup tiga unsur utama kehidupan manusia, yaitu cipta, rasa, dan karsa, karena ketiganya saling memengaruhi dan menentukan bagaimana seseorang menjalani kehidupannya.
Cipta perlu diamati karena pikiran dapat menghasilkan keinginan, penilaian, prasangka, kekhawatiran, maupun berbagai gambaran mengenai sesuatu yang belum tentu sesuai dengan kenyataan. Dengan mengamati cipta, manusia belajar mengetahui kapan pikirannya mulai dikuasai oleh kegelisahan atau kepentingan pribadi sehingga ia tidak langsung mengikuti setiap pikiran yang muncul.
Rasa juga perlu diamati karena perasaan dapat berubah dengan cepat mengikuti keadaan, pengalaman, perlakuan orang lain, maupun penilaian yang dibentuk oleh cipta. Kemarahan, iri hati, kebencian, rasa takut, kesenangan, kekecewaan, dan berbagai keadaan rasa lainnya perlu dikenali agar manusia tidak menjadikan setiap perasaan sebagai dasar langsung untuk bertindak.
Karsa pun perlu diamati karena kehendak merupakan kekuatan yang membawa pikiran dan perasaan menuju tindakan. Ketika karsa tidak diamati, manusia dapat mengetahui bahwa sesuatu itu tidak baik tetapi tetap melakukannya karena dorongan yang lebih kuat, sedangkan melalui Pamawas manusia mulai belajar melihat bagaimana sebuah dorongan berubah menjadi keputusan dan akhirnya menjadi tindakan.
Pengamatan terhadap ketiga unsur tersebut membantu manusia memahami dirinya secara lebih utuh sehingga cipta, rasa, dan karsa tidak lagi berjalan tanpa arah.
Mengamati Tanpa Memihak.
Salah satu hal terpenting dalam Samadhi Pamawas adalah pengamatan yang dilakukan tanpa memihak, karena tujuan pengamatan bukan untuk membenarkan ataupun menyalahkan diri sendiri, melainkan untuk melihat keadaan sebagaimana adanya.
Ketika muncul kesombongan, manusia tidak perlu segera menutupi atau menyangkalnya, tetapi belajar melihat bahwa kesombongan sedang muncul dalam dirinya.
Ketika muncul iri hati, kemarahan, pamrih, atau keinginan yang tidak baik, manusia juga tidak perlu berpura-pura bahwa dirinya telah terbebas dari semua itu, melainkan mengamati kemunculannya dengan jujur.
Sikap tersebut sangat penting karena manusia sering kali sulit melihat kekurangan dirinya sendiri ketika cipta langsung memberikan pembenaran terhadap apa yang dilakukannya.
Seseorang dapat menemukan banyak alasan untuk membenarkan kemarahannya, mempertahankan kesombongannya, atau menganggap pamrihnya sebagai sesuatu yang wajar.
Pamawas mengajarkan agar manusia berhenti sejenak sebelum mengikuti dorongan tersebut sehingga terdapat ruang antara munculnya dorongan dan tindakan yang dilakukan.
Ruang itulah yang memungkinkan manusia memilih tindakan dengan lebih sadar dan tidak sekadar mengikuti kebiasaan.
Pamawas Jroning Batin sebagai Laku Sehari-hari.
Samadhi Pamawas tidak seharusnya hanya berlangsung ketika manusia berada dalam suasana khusus untuk bersamadhi, karena inti pengamatan batin justru perlu dibawa ke dalam kehidupan sehari-hari.
Hal tersebut sejalan dengan Pamawas Jroning Batin, yaitu kebiasaan mengamati diri secara terus-menerus dalam menjalani kehidupan. Manusia belajar memperhatikan dirinya ketika berbicara dengan orang lain, ketika menghadapi perbedaan pendapat, ketika mendapatkan pujian, ketika mengalami penghinaan, ketika memperoleh keberhasilan, maupun ketika menghadapi kegagalan.
Dalam keadaan seperti itu, manusia dapat melihat apakah cipta tetap jernih, apakah rasa tetap tenteram, dan apakah karsa masih mengarah kepada kebajikan.
Dengan latihan yang terus dilakukan, pengamatan tidak lagi menjadi kegiatan yang terasa terpisah dari kehidupan. Perlahan-lahan manusia menjadi lebih cepat menyadari ketika dirinya mulai terbawa oleh kemarahan, kesombongan, pamrih, iri hati, atau keinginan yang berlebihan sehingga ia memiliki kesempatan untuk menghentikan dorongan tersebut sebelum berubah menjadi tindakan.
Pamawas Bukan Menghakimi Diri.
Pengamatan batin juga tidak boleh berubah menjadi kebiasaan menyalahkan diri sendiri secara berlebihan karena tujuan Pamawas adalah memperoleh kejernihan, bukan menumbuhkan kebencian terhadap diri.
Ketika seseorang menemukan kelemahan dalam dirinya, kelemahan tersebut dipahami sebagai sesuatu yang perlu dikenali dan diperbaiki, bukan sebagai alasan untuk menganggap dirinya lebih rendah atau tidak layak menjalani kehidupan.
Pamawas menuntun manusia untuk bersikap jujur terhadap dirinya sendiri sekaligus tetap memiliki keteguhan untuk memperbaiki apa yang belum baik.
Kejujuran dalam melihat diri menjadi dasar perubahan karena sesuatu yang tidak disadari akan sulit diperbaiki.
Oleh karena itu, semakin jernih pengamatan dilakukan, semakin kecil kebutuhan manusia untuk menyembunyikan keadaan dirinya sendiri dari dirinya sendiri.
Perubahan yang Tumbuh dari Pengamatan.
Pengamatan yang dilakukan secara terus-menerus perlahan membawa perubahan terhadap cipta, rasa, dan karsa. Cipta menjadi lebih mantap karena tidak mudah terseret oleh setiap pikiran yang muncul, rasa menjadi lebih tenteram karena tidak terus-menerus mengikuti perubahan keadaan, sedangkan karsa menjadi lebih teguh karena tindakan mulai dipilih dengan pertimbangan yang lebih jernih.
Perubahan tersebut kemudian mempengaruhi cara manusia berhubungan dengan sesama. Ia menjadi lebih mampu mendengarkan sebelum memberikan penilaian, lebih berhati-hati ketika berbicara, dan lebih mampu menahan diri ketika menghadapi sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginannya.
Dengan demikian, pengamatan batin bukan kegiatan yang menjauhkan manusia dari kehidupan sosial, melainkan justru membantu manusia menjalani hubungan dengan sesama secara lebih baik.
Samadhi Pamawas Menuju Samadhi Wening.
Samadhi Pamawas menjadi dasar bagi Samadhi Wening karena pengamatan yang dilakukan secara tekun akan mengurangi kekuasaan berbagai gejolak yang sebelumnya memenuhi cipta.
Ketika manusia mulai mampu melihat pikirannya tanpa selalu mengikuti setiap pikiran, melihat perasaannya tanpa selalu hanyut di dalamnya, serta melihat kehendaknya tanpa selalu langsung melaksanakannya, maka keramaian batin perlahan mulai berkurang.
Dari sinilah keadaan wening mulai terbentuk. Cipta tidak lagi terus-menerus dipenuhi oleh berbagai dorongan yang saling bertentangan sehingga manusia memperoleh ruang untuk melihat kehidupan dengan lebih jernih.
Karena itu, Pamawas dapat dipandang sebagai pintu menuju Wening. Pengamatan membuka kesadaran terhadap apa yang berlangsung di dalam diri, sedangkan kejernihan tumbuh ketika manusia tidak lagi dikuasai oleh apa yang telah diamatinya.
Buah Samadhi Pamawas dalam Kehidupan.
Buah Samadhi Pamawas bukan pengalaman yang hanya dirasakan ketika seseorang berada dalam keheningan, melainkan perubahan yang dapat terlihat dalam perilaku sehari-hari.
Manusia yang mulai menghayati Pamawas akan semakin mampu mengenali dorongan buruk sebelum diwujudkan menjadi tindakan, semakin mampu mempertimbangkan ucapan sebelum disampaikan, dan semakin mampu memilih tindakan berdasarkan kebajikan daripada dorongan sesaat.
Ia juga mulai memahami bahwa tidak semua yang dipikirkan harus dipercaya, tidak semua yang dirasakan harus diikuti, dan tidak semua yang diinginkan harus diwujudkan.
Pada akhirnya, Samadhi Pamawas mengajarkan manusia untuk menjadi pengamat terhadap dirinya sendiri sehingga ia tidak lagi hidup sebagai orang yang terus-menerus digerakkan oleh pikiran, perasaan, dan keinginan yang muncul secara spontan.
Ketika kemampuan mengamati tersebut semakin kuat, cipta menjadi lebih jernih, rasa semakin tenteram, karsa semakin mengarah kepada kebenaran, dan manusia menjadi semakin siap memasuki Samadhi Wening sebagai tahap berikutnya dalam perjalanan Nawa Samadhi Uttamopadesa.
FAQ - Samadhi Pamawas Uttamopadesa.
1. Apa yang dimaksud dengan Samadhi Pamawas?
Samadhi Pamawas adalah tahap kedua Nawa Samadhi Uttamopadesa yang mengajarkan manusia untuk mengamati cipta, rasa, dan karsa secara jernih agar tidak mudah dikuasai oleh berbagai dorongan batin.
2. Apa hubungan Samadhi Pamawas dengan Samadhi Panarik?
Samadhi Panarik mengajarkan manusia menarik cipta dari keterikatan duniawi, sedangkan Samadhi Pamawas menggunakan cipta yang mulai lebih mantap tersebut untuk mengamati keadaan dirinya sendiri.
3. Apa yang diamati dalam Samadhi Pamawas?
Yang diamati adalah seluruh gerak cipta, rasa, dan karsa, termasuk munculnya pamrih, kesombongan, hawa nafsu, kegelisahan, iri hati, kemarahan, maupun berbagai kecenderungan yang dapat memengaruhi tindakan.
4. Apakah Pamawas berarti hanya mengamati pikiran?
Tidak, karena Pamawas mencakup cipta, rasa, dan karsa sehingga manusia tidak hanya mengamati apa yang dipikirkannya, tetapi juga apa yang dirasakan dan bagaimana kehendaknya mengarah kepada tindakan.
5. Mengapa pengamatan harus dilakukan tanpa memihak?
Pengamatan tanpa memihak diperlukan agar manusia mampu melihat keadaan dirinya sebagaimana adanya tanpa terburu-buru membenarkan, menyalahkan, menyembunyikan, ataupun mengikuti apa yang sedang muncul di dalam dirinya.
6. Apakah Pamawas berarti harus menghilangkan pikiran dan perasaan?
Tidak, karena tujuan Pamawas bukan menghilangkan pikiran dan perasaan, melainkan membuat manusia mampu menyadari kemunculannya sehingga tidak selalu hanyut dan dikendalikan olehnya.
7. Apa hubungan Pamawas dengan Pamawas Jroning Batin?
Pamawas Jroning Batin merupakan laku pengamatan diri yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga prinsip Samadhi Pamawas tidak berhenti pada keadaan khusus ketika bersamadhi, tetapi diterapkan dalam setiap keadaan kehidupan.
8. Bagaimana mengetahui bahwa Samadhi Pamawas mulai berkembang?
Tandanya dapat terlihat ketika manusia semakin cepat menyadari kemarahan, pamrih, kesombongan, iri hati, atau dorongan lain sebelum semuanya berubah menjadi tindakan, sehingga ia memiliki kesempatan untuk memilih tindakan yang lebih baik.
9. Apakah Samadhi Pamawas berarti terus-menerus memikirkan diri sendiri?
Tidak, karena Pamawas bukan kegiatan memikirkan diri tanpa henti, melainkan kemampuan mengamati gerak diri secara jernih sehingga manusia dapat menjalani kehidupan dengan lebih sadar dan tidak mudah dikuasai dorongan sesaat.
10. Apa tujuan akhir Samadhi Pamawas?
Tujuan Pamawas adalah membangun kejernihan pengamatan sehingga cipta semakin mantap, rasa semakin tenteram, dan karsa semakin mengarah kepada kebenaran sebagai persiapan menuju Samadhi Wening.
11. Mengapa Samadhi Pamawas penting dalam perjalanan Nawa Samadhi?
Samadhi Pamawas penting karena manusia tidak akan mudah mencapai kejernihan apabila tidak mampu mengenali terlebih dahulu apa saja yang berlangsung di dalam dirinya, sehingga pengamatan menjadi pintu bagi proses pemurnian berikutnya.
12. Apa hasil paling penting dari Samadhi Pamawas?
Hasil terpentingnya adalah tumbuhnya kemampuan untuk melihat pikiran, perasaan, dan kehendak tanpa langsung dikuasai olehnya, sehingga manusia semakin mampu menentukan sikap dan tindakan berdasarkan kejernihan serta kebajikan.
** Sumber artikel :
NAWA SAMADHI UTTAMOPADESA

Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar dengan sopan, jangan spam.