SAMADHI SAMPURNA UTTAMOPADESA

samadhi sampurna uttamopadesa

Kembali kepada Sang Sumber Panguripan

Samadhi Sampurna merupakan tahap kesembilan sekaligus puncak perjalanan dalam Nawa Samadhi Uttamopadesa. Namun, puncak perjalanan ini tidak dimaksudkan sebagai akhir dari kehidupan ataupun keadaan ketika manusia berhenti bertumbuh, melainkan sebagai awal dari kehidupan yang sepenuhnya dijalani dalam terang Kawruh Sejati dan keselarasan dengan Tatananing Panguripan.

Setelah melalui tahapan panjang dari pemusatan cipta, pendalaman penghayatan, munculnya pepadhang, hingga pemurnian berbagai pamrih dan keterikatan pribadi, manusia sampai pada keadaan ketika kawruh tidak lagi berada di luar dirinya sebagai sesuatu yang harus dipelajari.

Kawruh telah menjadi bagian dari cara hidup, cara memandang, cara merasakan, cara menggunakan kehendak, dan cara memperlakukan seluruh kehidupan.

Samadhi Sampurna karena itu tidak terutama menunjuk kepada pengalaman batin yang luar biasa, melainkan kepada keselarasan hidup yang semakin utuh. Cipta telah jernih, rasa telah tulus, karsa telah luhur, dan budi telah berkembang menjadi semakin bijaksana, sehingga seluruh kehidupan bergerak dalam arah yang selaras dengan Tatananing Panguripan.

Puncak yang Bukan Akhir.
Samadhi Sampurna disebut sebagai puncak karena merupakan tahap kesembilan dalam rangkaian Nawa Samadhi Uttamopadesa, tetapi puncak tersebut tidak berarti manusia telah selesai menjalani kehidupan. Justru setelah berbagai pemahaman dan penghayatan mencapai kematangan, kehidupan sehari-hari menjadi tempat utama untuk membuktikan kedalaman samadhi tersebut.

Manusia tetap bekerja, berhubungan dengan sesama, menghadapi persoalan, mengalami perubahan, merasakan suka dan duka, serta menjalankan tanggung jawabnya sebagaimana manusia pada umumnya.

Perbedaannya terletak pada dasar yang menggerakkan kehidupannya, karena ia tidak lagi mudah dikuasai oleh pamrih pribadi, kesombongan, keinginan untuk dipuji, ataupun dorongan untuk menjadikan kepentingannya sendiri sebagai ukuran utama.

Dengan demikian, kesempurnaan samadhi justru terlihat ketika seseorang mampu membawa kejernihan tersebut ke tengah kehidupan yang nyata.

Cipta, Rasa, dan Karsa yang Selaras.
Pada Samadhi Sampurna, cipta, rasa, dan karsa telah melalui proses pemurnian yang panjang sehingga ketiganya semakin mampu berjalan dalam keselarasan.

Cipta tidak lagi mudah dikacaukan oleh prasangka dan kepentingan pribadi, rasa tidak lagi mudah dikuasai oleh gejolak yang berlebihan, sedangkan karsa tidak lagi diarahkan terutama untuk memenuhi keinginan diri sendiri.

Keselarasan tersebut membuat manusia semakin mampu memahami keadaan secara jernih sebelum bertindak, merasakan dampak tindakannya terhadap kehidupan, kemudian menggunakan kehendaknya untuk memilih tindakan yang membawa kebaikan.

Ketiganya tidak berjalan sendiri-sendiri, karena cipta memberikan kejernihan dalam memahami, rasa memberikan kedalaman dalam menghayati, dan karsa memberikan daya untuk mewujudkan apa yang telah dipahami dan dihayati dalam kehidupan nyata.

Dari keselarasan tersebut berkembang budi yang semakin luhur, sehingga manusia tidak hanya mengetahui apa yang baik, tetapi juga mampu menjalankan kebaikan secara tepat dan bertanggung jawab.

Pamrih Tidak Lagi Menjadi Penguasa.
Salah satu tanda penting Samadhi Sampurna adalah semakin hilangnya kekuasaan pamrih pribadi atas kehidupan. Manusia tetap memiliki kebutuhan dan kehendak sebagai bagian dari kehidupan, tetapi kepentingan pribadi tidak lagi menjadi pusat dari segala sesuatu.

Ia tidak melakukan kebaikan semata-mata agar dipuji, tidak mencari kebenaran hanya untuk menunjukkan dirinya paling benar, dan tidak menggunakan pengetahuan sebagai alat untuk meninggikan dirinya di hadapan sesama.

Semakin bersih dari pamrih, semakin bebas manusia menjalani kehidupan. Ia dapat membantu tanpa menuntut balasan, berkata benar tanpa membutuhkan pengakuan, dan menjalankan kewajiban tanpa selalu menunggu penghargaan.

Kebebasan semacam ini bukan kebebasan untuk melakukan apa saja yang diinginkan, melainkan kebebasan dari penguasaan kepentingan pribadi yang membuat manusia sulit melihat kehidupan secara utuh.

Pepadhang Kawruh Sejati.
Pada tahap ini, pepadhang Kawruh Sejati tidak lagi hanya hadir sebagai pemahaman ataupun penghayatan tertentu, tetapi telah menjadi dasar dalam menjalani kehidupan.

Manusia semakin mampu menerima kejernihan tersebut melalui Jatining Panguripan sebagai Guru Sejati, sehingga pengetahuan tidak lagi hanya diperoleh melalui kata-kata, melainkan semakin dikenali melalui kehidupan yang dijalani dengan jernih.

Pepadhang tersebut tidak menjadikan manusia merasa lebih tinggi daripada orang lain. Sebaliknya, semakin terang pemahamannya, semakin rendah hati ia dalam menjalani kehidupan, karena ia menyadari bahwa dirinya bukan sumber dari segala kebenaran dan bahwa kehidupan memiliki tatanan yang jauh lebih luas daripada kepentingan pribadinya.

Karena itu, pepadhang yang benar selalu menghasilkan keluhuran budi dan kebaikan dalam laku.

Wangsul Marang Sang Sumber Panguripan.
Ungkapan “Wangsul Marang Sang Sumber Panguripan” menjadi inti dari Samadhi Sampurna. Wangsul di sini tidak berarti manusia secara harfiah meninggalkan kehidupan, lenyap, ataupun melebur menjadi sesuatu yang lain.

Manusia tetap menjadi dirinya sendiri dan tetap menjalankan kehidupan sebagai manusia, tetapi seluruh arah kehidupannya semakin kembali kepada keselarasan dengan Sang Sumber Panguripan sebagai asal, penuntun, dan tujuan seluruh kehidupan.
Dengan pengertian tersebut, “kembali” merupakan proses penyelarasan.

Manusia yang sebelumnya banyak bergerak berdasarkan kepentingan pribadi perlahan kembali kepada kehidupan yang selaras dengan sumbernya, sehingga kehendak pribadi tidak lagi menjadi penguasa utama.

Ia semakin mampu menerima kehidupan sebagaimana adanya, menjalankan kewajiban dengan tulus, menjaga hubungan dengan sesama, serta menghormati seluruh kehidupan sebagai bagian dari Tatananing Panguripan.

Ketenteraman yang Tidak Bergantung pada Dunia.
Samadhi Sampurna juga ditandai oleh ketenteraman yang semakin tidak bergantung pada perubahan keadaan luar. Kehidupan tetap mengalami perubahan, tetapi perubahan tersebut tidak lagi mudah mengguncangkan dasar ketenteraman manusia.

Ia dapat menerima keberhasilan tanpa kesombongan dan menghadapi kegagalan tanpa kehilangan arah, karena ukuran kehidupannya tidak lagi sepenuhnya ditentukan oleh hasil yang diperolehnya. Yang menjadi perhatian utama adalah apakah ia telah menjalani keadaan tersebut dengan cipta yang jernih, rasa yang tulus, karsa yang luhur, dan budi yang benar.

Ketenteraman semacam ini bukan berarti tidak pernah merasakan kesedihan, kemarahan, ataupun kekecewaan, tetapi manusia tidak lagi membiarkan berbagai perasaan tersebut menjadi penguasa kehidupannya.

Kesempurnaan Diukur dari Buah Kehidupan.
Menurut ajaran Serat Uttamopadesa, ukuran Samadhi Sampurna bukanlah pengalaman batin yang sulit dijelaskan ataupun kemampuan menunjukkan keadaan tertentu kepada orang lain. Ukurannya justru dapat dilihat dari buah nyata yang muncul dalam kehidupan.

Seseorang yang semakin matang dalam samadhi akan semakin rendah hati, sabar, jujur, penuh kasih, suka menolong, mampu menghormati perbedaan, serta berusaha menjaga keharmonisan dengan sesama dan alam semesta.

Hal tersebut menunjukkan bahwa perjalanan batin benar-benar telah menghasilkan perubahan dalam kehidupan. Jika pengetahuan hanya membuat seseorang merasa lebih tinggi, berarti pengetahuan tersebut belum menghasilkan kesempurnaan.

Jika penghayatan justru membuat seseorang semakin ingin menguasai orang lain, berarti pemurniannya belum selesai.

Sebaliknya, apabila kawruh membuat manusia semakin sederhana, tulus, bertanggung jawab, dan bermanfaat bagi kehidupan, maka kawruh tersebut telah menghasilkan buah yang nyata.

Dari Pengetahuan Menjadi Jalan Hidup.
Perjalanan Nawa Samadhi pada akhirnya menunjukkan suatu perkembangan yang bertahap. Pengetahuan mula-mula dipahami, kemudian dihayati, diterangi oleh pepadhang, dimurnikan dari berbagai pamrih, hingga akhirnya menjadi bagian yang menyatu dengan kehidupan.

Pada Samadhi Sampurna, pengetahuan telah menjadi penghayatan, penghayatan telah menjadi perilaku, perilaku telah menjadi watak, dan watak telah menjadi jalan hidup.

Karena itu, samadhi tidak lagi hanya berkaitan dengan keadaan tertentu ketika manusia duduk dalam keheningan.

Samadhi hadir dalam cara seseorang berbicara, bekerja, mengambil keputusan, menghadapi perbedaan, menggunakan kekuasaan, memperlakukan sesama, dan menjalankan tanggung jawabnya.

Seluruh kehidupan menjadi tempat untuk membuktikan kejernihan tersebut.

Kesempurnaan sebagai Keselarasan
Samadhi Sampurna pada akhirnya bukan tentang menjadi manusia yang merasa sempurna, melainkan tentang semakin utuhnya keselarasan antara manusia dan Tatananing Panguripan.

Manusia tidak kehilangan jati dirinya, tetapi justru semakin mampu menjalani dirinya secara benar karena tidak lagi dikuasai oleh berbagai dorongan yang mengaburkan kejernihan.

Ia tetap hidup sebagai manusia, tetapi kehidupan tersebut semakin diterangi oleh Kawruh Sejati. Ia tetap memiliki cipta, rasa, karsa, dan budi, tetapi semuanya semakin diarahkan kepada kebaikan, ketulusan, kasih, dan kemanfaatan bagi kehidupan.

Inilah makna terdalam dari “Wangsul Marang Sang Sumber Panguripan”. Manusia tidak lenyap dan tidak kehilangan keberadaannya, melainkan seluruh kehidupannya kembali berada dalam keselarasan dengan Sang Sumber Panguripan.

Dengan demikian, Samadhi Sampurna merupakan puncak Nawa Samadhi sekaligus awal dari kehidupan yang lebih utuh.

Kesempurnaan bukanlah berhentinya perjalanan, melainkan ketika seluruh perjalanan telah menemukan arah yang benar dan setiap langkah kehidupan dijalani dengan cipta yang bening, rasa yang tulus, karsa yang luhur, budi yang bijaksana, serta kesetiaan kepada Tatananing Panguripan.

FAQ - Samadhi Sampurna Uttamopadesa.
1. Apa yang dimaksud dengan Samadhi Sampurna Uttamopadesa?
Samadhi Sampurna merupakan tahap kesembilan sekaligus puncak Nawa Samadhi Uttamopadesa yang menggambarkan keadaan ketika cipta, rasa, karsa, dan budi telah semakin selaras dengan Tatananing Panguripan dan Kawruh Sejati telah menjadi jalan hidup.

2. Apakah Samadhi Sampurna berarti manusia telah mencapai kesempurnaan mutlak?
Tidak, karena Samadhi Sampurna tidak dimaksudkan sebagai keadaan manusia yang tidak mungkin mengalami kesalahan, melainkan sebagai gambaran tentang keselarasan hidup yang semakin utuh dan semakin bebas dari penguasaan pamrih pribadi.

3. Apa arti “Wangsul Marang Sang Sumber Panguripan”?
Wangsul Marang Sang Sumber Panguripan berarti kembali hidup dalam keselarasan dengan Sang Sumber Panguripan sebagai asal, penuntun, dan tujuan kehidupan, bukan berarti manusia lenyap, kehilangan jati diri, atau melebur menjadi sesuatu yang lain.

4. Apakah Samadhi Sampurna membuat manusia meninggalkan kehidupan duniawi?
Tidak, karena manusia tetap menjalankan kehidupan sehari-hari, bekerja, berhubungan dengan sesama, menghadapi persoalan, dan menjalankan kewajiban, tetapi seluruhnya dilakukan dengan kejernihan dan keselarasan yang semakin mendalam.

5. Apa tanda seseorang telah menghayati Samadhi Sampurna?
Tandanya bukan pengalaman batin yang luar biasa, melainkan semakin beningnya cipta, semakin tulusnya rasa, semakin luhurnya karsa, semakin bijaksananya budi, serta semakin nyata sikap rendah hati, jujur, sabar, penuh kasih, dan suka menolong dalam kehidupan.

6. Apa hubungan Samadhi Sampurna dengan Kawruh Sejati?
Pada Samadhi Sampurna, Kawruh Sejati tidak lagi hanya menjadi pengetahuan yang dipahami atau penghayatan yang dirasakan, tetapi telah menjadi dasar perilaku, watak, dan jalan hidup manusia.

7. Apakah Samadhi Sampurna berarti tidak memiliki pamrih sama sekali?
Samadhi Sampurna menggambarkan keadaan ketika pamrih pribadi tidak lagi menjadi penguasa kehidupan, sehingga manusia semakin mampu bertindak dengan tulus tanpa menjadikan pujian, keuntungan, atau pengakuan sebagai tujuan utama.

8. Mengapa Samadhi Sampurna disebut puncak Nawa Samadhi?
Samadhi Sampurna disebut puncak karena merupakan tahap kesembilan yang menggambarkan keselarasan paling utuh dalam rangkaian Nawa Samadhi, ketika hasil seluruh proses pemurnian telah diwujudkan dalam kehidupan nyata.

9. Apakah Samadhi Sampurna merupakan akhir perjalanan manusia?
Samadhi Sampurna bukan akhir kehidupan, melainkan awal dari kehidupan yang semakin sepenuhnya dijalani berdasarkan Kawruh Sejati, karena kesempurnaan justru harus terus dibuktikan melalui laku dan manfaat nyata bagi kehidupan.

10. Apa ukuran utama kesempurnaan samadhi menurut Uttamopadesa?
Ukuran utamanya adalah buah kehidupan yang nyata, yaitu ketika kejernihan cipta, ketulusan rasa, keluhuran karsa, dan kebijaksanaan budi tercermin dalam perilaku yang membawa ketenteraman, kebaikan, dan kemanfaatan bagi sesama serta kehidupan secara keseluruhan.

** Sumber artikel :
NAWA SAMADHI UTTAMOPADESA  

Komentar