Batin Mulai Menjadi Jernih
Samadhi Wening merupakan tahap ketiga dalam Nawa Samadhi Uttamopadesa, yang menunjukkan mulai tumbuhnya kejernihan setelah manusia menjalani proses pengamatan terhadap dirinya melalui Samadhi Pamawas.
Pada tahap sebelumnya, manusia belajar melihat gerak cipta, rasa, dan karsa secara lebih sadar tanpa mudah terseret oleh berbagai dorongan yang muncul dari dalam dirinya, sedangkan pada tahap Wening, hasil dari pengamatan tersebut mulai membentuk keadaan batin yang lebih bening, sehingga manusia tidak lagi sekadar mampu melihat gejolak dirinya, tetapi juga mulai mampu menjaga dirinya agar tidak dikuasai oleh gejolak tersebut.
Wening dalam pengertian Uttamopadesa bukanlah keadaan ketika manusia kehilangan pikiran, berhenti merasakan sesuatu, atau terputus dari dunia di sekelilingnya, melainkan keadaan ketika cipta mulai terbebas dari kegelisahan, pamrih, prasangka, dan keramaian pikiran yang selama ini membuat pandangan manusia menjadi tidak jernih.
Tubuh tetap dirasakan, napas tetap disadari, suara tetap terdengar, dan berbagai peristiwa di sekeliling tetap berlangsung sebagaimana adanya, tetapi semua itu tidak lagi dengan mudah mengguncang ketenteraman yang mulai tumbuh di dalam diri.
Dari Pamawas Menuju Wening.
Samadhi Pamawas memberikan dasar penting bagi lahirnya Samadhi Wening karena manusia tidak mungkin mencapai kejernihan apabila ia belum mampu melihat apa yang sebenarnya terjadi dalam dirinya.
Melalui pengamatan yang terus-menerus terhadap cipta, rasa, dan karsa, manusia mulai mengenali berbagai gerak yang sebelumnya berlangsung tanpa disadari, termasuk munculnya pamrih, keinginan pribadi, kesombongan, prasangka, dorongan untuk membenarkan diri sendiri, serta berbagai kecenderungan yang dapat menjauhkan dirinya dari kebenaran.
Ketika pengamatan tersebut dilakukan dengan sungguh-sungguh dan tidak berhenti pada saat bersamadhi saja, manusia perlahan mulai memahami bahwa tidak semua pikiran harus diikuti, tidak semua perasaan harus dituruti, dan tidak semua keinginan harus diwujudkan.
Pemahaman semacam ini kemudian memberi ruang bagi cipta untuk menjadi lebih tenang, karena manusia tidak lagi secara otomatis mengikuti setiap gerakan yang muncul di dalam dirinya.
Pada keadaan inilah Wening mulai tumbuh, bukan sebagai sesuatu yang dipaksakan dari luar, melainkan sebagai hasil dari berkurangnya berbagai kotoran yang selama ini membuat cipta menjadi keruh.
Cipta yang Semakin Bening.
Kejernihan cipta merupakan salah satu tanda utama dalam Samadhi Wening karena manusia mulai mampu melihat sesuatu tanpa tergesa-gesa memberikan penilaian.
Ketika cipta masih dipenuhi kegelisahan dan kepentingan pribadi, suatu peristiwa sering kali dilihat bukan berdasarkan kenyataannya, melainkan berdasarkan apa yang ingin dilihat oleh diri sendiri, sehingga penilaian mudah dipengaruhi oleh rasa suka dan tidak suka, keuntungan pribadi, pengalaman masa lalu, maupun prasangka terhadap orang lain.
Dalam Samadhi Wening, manusia mulai belajar memberi jarak antara kenyataan dengan penilaiannya sendiri, sehingga apa yang terjadi dapat dilihat dengan lebih tenang sebelum ditanggapi melalui perkataan ataupun tindakan.
Kejernihan tersebut bukan berarti manusia tidak lagi mempunyai pendapat, melainkan bahwa pendapat yang muncul tidak mudah dikuasai oleh gejolak batin.
Cipta yang semakin bening juga membuat manusia tidak mudah terbawa oleh keramaian pikiran, karena ia mulai mampu mengenali mana dorongan yang perlu diperhatikan dan mana dorongan yang sebaiknya dilepaskan.
Dengan demikian, kejernihan bukan hanya memberikan ketenangan, tetapi juga membantu manusia melihat kehidupan secara lebih adil dan tidak tergesa-gesa.
Rasa yang Semakin Halus.
Sejalan dengan semakin beningnya cipta, rasa juga mengalami perubahan yang penting karena rasa tidak lagi mudah dikuasai oleh gejolak yang muncul akibat kepentingan pribadi.
Perasaan marah, kecewa, iri, takut, tersinggung, atau tidak senang tetap mungkin muncul dalam kehidupan manusia, tetapi pengaruhnya terhadap sikap dan tindakan menjadi semakin kecil ketika manusia mampu mengamatinya tanpa langsung mengikuti dorongannya.
Rasa yang semakin halus membuat manusia lebih mampu memahami keadaan tanpa segera memberikan reaksi yang berlebihan, sehingga hubungan dengan sesama dapat dijalani dengan lebih tenang dan penuh pertimbangan.
Kehalusan rasa dalam pengertian ini bukan kelemahan, melainkan kemampuan untuk merasakan sesuatu secara lebih dalam tanpa kehilangan kejernihan dalam menanggapinya.
Manusia mulai memahami bahwa ketenangan tidak berarti tidak mempunyai perasaan, tetapi mampu menjaga agar perasaan tidak mengambil alih seluruh pertimbangan dalam menentukan sikap.
Karsa yang Semakin Mantap Menuju Kebajikan.
Samadhi Wening tidak berhenti pada kejernihan cipta dan kehalusan rasa karena kejernihan yang tidak diwujudkan dalam tindakan belum menunjukkan perubahan yang utuh dalam diri manusia.
Oleh karena itu, pada tahap ini karsa mulai menjadi semakin mantap dalam mengarah kepada kebajikan, sebab manusia yang telah mampu melihat dirinya dengan lebih jernih akan semakin memahami akibat dari setiap kehendak dan tindakan yang dilakukannya.
Karsa yang semakin mantap bukan berarti manusia kehilangan kehendak pribadi, melainkan kehendak tersebut mulai terbebas dari dorongan yang semata-mata mengejar kepentingan diri.
Keinginan untuk menang sendiri, mendapatkan pujian, menunjukkan kelebihan, atau membalas perlakuan yang tidak menyenangkan perlahan kehilangan kekuatannya ketika manusia mampu melihat semuanya dengan cipta yang lebih jernih dan rasa yang lebih halus.
Dengan demikian, Wening mulai menunjukkan hubungan yang semakin erat antara pemahaman dan perilaku, karena kejernihan tidak hanya tinggal sebagai pengalaman ketika bersamadhi, tetapi mulai terlihat melalui pilihan-pilihan yang dibuat dalam kehidupan sehari-hari.
Wening Bukan Keadaan Tanpa Pikiran.
Salah satu hal penting yang perlu dipahami adalah bahwa Samadhi Wening bukan keadaan tanpa pikiran dan bukan pula keadaan ketika manusia harus mengosongkan dirinya dari segala sesuatu.
Selama manusia masih menjalani kehidupan, cipta akan tetap bergerak, rasa akan tetap bekerja, dan berbagai keadaan dari luar akan tetap memberikan rangsangan.
Yang mengalami perubahan adalah hubungan manusia dengan semua gerakan tersebut, karena manusia tidak lagi mudah terseret oleh setiap pikiran, perasaan, maupun keinginan yang muncul. Ia mulai mampu melihatnya, memahami kemunculannya, kemudian menentukan sikap dengan lebih tenang berdasarkan kejernihan yang telah berkembang.
Oleh sebab itu, ukuran Wening bukanlah seberapa lama seseorang mampu duduk diam dalam samadhi, melainkan sejauh mana kejernihan tersebut mampu memengaruhi cara seseorang berpikir, merasakan, berbicara, mengambil keputusan, dan bertindak ketika kembali menjalani kehidupan sehari-hari.
Kesiapan Menerima Pepadhang Kasunyatan.
Menurut ajaran Uttamopadesa, ketika berbagai kotoran dalam cipta semakin berkurang, manusia mulai berada dalam keadaan yang lebih siap menerima pepadhang kasunyatan.
Pepadhang tersebut bukan cahaya dalam pengertian fisik, melainkan semakin jelasnya pemahaman terhadap kenyataan kehidupan ketika cipta, rasa, dan karsa tidak lagi terlalu banyak tertutup oleh kepentingan pribadi.
Kejernihan membuat manusia mampu menerima kenyataan tanpa selalu memaksanya agar sesuai dengan keinginan sendiri, sehingga hubungan antara manusia dengan kehidupan menjadi lebih selaras.
Dalam keadaan tersebut, budi mulai berkembang karena cipta menjadi lebih jernih, rasa menjadi lebih halus, dan karsa semakin mengarah kepada kebenaran.
Pepadhang kasunyatan dengan demikian bukan sesuatu yang harus dikejar sebagai pengalaman luar biasa, tetapi tumbuh seiring dengan berkurangnya segala sesuatu yang membuat manusia sulit melihat kehidupan sebagaimana adanya.
Wening sebagai Laku Kehidupan.
Samadhi Wening akan kehilangan maknanya apabila hanya menjadi pengalaman ketika seseorang duduk bersamadhi, kemudian kembali kepada kebiasaan lama begitu berhadapan dengan kehidupan nyata.
Karena itu, kejernihan harus dibawa ke dalam setiap keadaan, terutama ketika manusia menghadapi perbedaan pendapat, perlakuan yang tidak menyenangkan, kegagalan, keberhasilan, godaan kepentingan pribadi, maupun berbagai keadaan yang dapat mengguncang dirinya.
Ketika menghadapi persoalan, manusia yang mulai menjalani Wening tidak terburu-buru memberikan tanggapan karena ia memberi kesempatan kepada cipta untuk melihat keadaan dengan jernih, memberi kesempatan kepada rasa untuk tetap halus, serta memberi kesempatan kepada karsa untuk memilih tindakan yang selaras dengan kebajikan.
Dengan cara demikian, samadhi tidak lagi menjadi kegiatan yang terpisah dari kehidupan, melainkan menjadi bagian dari proses membentuk watak.
Semakin kejernihan tersebut diwujudkan dalam kehidupan, semakin kecil kemungkinan manusia bertindak hanya berdasarkan dorongan sesaat, dan semakin besar kemampuannya untuk hidup dengan pertimbangan yang matang serta selaras dengan Tatananing Panguripan.
Wening Menuju Tentrem.
Samadhi Wening menjadi dasar penting bagi Samadhi Tentrem karena ketenteraman yang sejati tidak dapat tumbuh apabila cipta masih dipenuhi kegelisahan, rasa masih mudah diguncang oleh berbagai gejolak, dan karsa masih kuat dikuasai kepentingan pribadi.
Wening terlebih dahulu membersihkan dan menjernihkan ruang dalam diri, sehingga pada tahap berikutnya ketenteraman dapat tumbuh dengan lebih kokoh.
Dengan demikian, perjalanan dari Pamawas menuju Wening merupakan perjalanan dari pengamatan menuju kejernihan, sedangkan perjalanan dari Wening menuju Tentrem merupakan perkembangan dari kejernihan menuju ketenteraman yang semakin menyeluruh.
Ketika cipta semakin bening, rasa semakin halus, dan karsa semakin mantap menuju kebajikan, manusia mulai mampu membawa ketenangan tersebut ke dalam seluruh kehidupannya.
Pada akhirnya, Samadhi Wening mengajarkan bahwa kejernihan bukanlah keadaan yang membuat manusia menjauh dari kehidupan, melainkan keadaan yang membuat manusia mampu hadir di tengah kehidupan tanpa mudah dikuasai oleh kegelisahan, pamrih, prasangka, dan gejolak pribadi.
Semakin bening cipta, semakin halus rasa, dan semakin lurus karsa menuju kebajikan, semakin terbuka pula jalan bagi manusia untuk memahami kehidupan dengan lebih adil, lebih tenang, dan lebih selaras dengan Tatananing Panguripan.
FAQ - Samadhi Wening Uttamopadesa.
1. Apa yang dimaksud dengan Samadhi Wening?
Samadhi Wening adalah tahap ketiga dalam Nawa Samadhi Uttamopadesa ketika cipta mulai menjadi jernih setelah manusia menjalani pengamatan terhadap dirinya melalui Samadhi Pamawas, sehingga pikiran tidak mudah dikuasai kegelisahan, pamrih, prasangka, dan berbagai gejolak yang mengganggu kejernihan.
2. Apakah Samadhi Wening berarti tidak memiliki pikiran?
Tidak, karena Samadhi Wening bukan keadaan tanpa pikiran, melainkan keadaan ketika manusia mampu melihat dan mengendalikan pengaruh berbagai pikiran tanpa harus mengikuti setiap dorongan yang muncul di dalam dirinya.
3. Apakah Samadhi Wening berarti harus mengasingkan diri dari dunia?
Tidak, karena tujuan Samadhi Wening justru agar manusia mampu membawa kejernihan yang diperolehnya ke dalam kehidupan sehari-hari, sehingga hubungan dengan sesama dan berbagai persoalan kehidupan dapat dihadapi dengan lebih tenang dan bijaksana.
4. Apa hubungan Samadhi Pamawas dengan Samadhi Wening?
Samadhi Pamawas memberikan dasar melalui pengamatan terhadap cipta, rasa, dan karsa, sedangkan Samadhi Wening merupakan perkembangan ketika hasil pengamatan tersebut mulai menghasilkan kejernihan dan berkurangnya berbagai gejolak yang mengganggu diri.
5. Apa tanda seseorang mulai mengalami Wening?
Tandanya dapat terlihat ketika seseorang tidak lagi tergesa-gesa dalam menilai sesuatu, tidak mudah dikuasai prasangka, mampu menahan dorongan yang tidak baik, serta semakin mampu memilih tindakan yang selaras dengan kebajikan.
6. Apakah rasa dalam Samadhi Wening menjadi hilang?
Tidak, rasa justru menjadi semakin halus karena manusia tidak lagi mudah dikuasai oleh kemarahan, iri hati, kekecewaan, atau gejolak lainnya, sehingga ia dapat merasakan keadaan secara lebih mendalam tanpa kehilangan kejernihan dalam menentukan sikap.
7. Apa hubungan Wening dengan kebajikan?
Kejernihan membuat manusia mampu melihat akibat dari kehendak dan tindakannya dengan lebih jelas, sehingga karsa semakin mantap diarahkan kepada kebajikan dan tidak mudah dikuasai oleh kepentingan pribadi.
8. Apa hubungan Samadhi Wening dengan Pepadhang Kasunyatan?
Samadhi Wening merupakan keadaan ketika cipta mulai bersih sehingga manusia menjadi lebih siap menerima pepadhang kasunyatan, karena kejernihan membuat manusia mampu melihat kehidupan tanpa terlalu banyak tertutup oleh pamrih dan gejolak pribadi.
9. Apakah Samadhi Wening hanya dapat dilakukan ketika duduk bersamadhi?
Tidak, karena Wening seharusnya berkembang menjadi laku kehidupan yang dapat diterapkan ketika manusia bekerja, berhubungan dengan sesama, menghadapi persoalan, maupun mengambil keputusan, sehingga kejernihan tidak berhenti sebagai pengalaman ketika bersamadhi.
10. Apa tahap setelah Samadhi Wening?
Tahap berikutnya adalah Samadhi Tentrem, yaitu tahap ketika cipta, rasa, dan karsa yang telah semakin jernih mulai berkembang menuju ketenteraman yang lebih menyeluruh dan semakin nyata dalam kehidupan sehari-hari.
** Sumber artikel :
NAWA SAMADHI UTTAMOPADESA

Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar dengan sopan, jangan spam.