Ketenteraman Cipta, Rasa, dan Karsa
Samadhi Tentrem merupakan tahap keempat dalam Nawa Samadhi Uttamopadesa, yang menunjukkan perkembangan lebih lanjut setelah manusia melalui Samadhi Panarik, Samadhi Pamawas, dan Samadhi Wening.
Jika pada Samadhi Panarik manusia mulai menarik cipta dari keterikatan terhadap berbagai godaan duniawi, pada Samadhi Pamawas manusia belajar mengamati gerak cipta, rasa, dan karsa, sedangkan pada Samadhi Wening kejernihan mulai tumbuh karena berbagai kegelisahan, pamrih, prasangka, dan keramaian pikiran semakin berkurang, maka pada Samadhi Tentrem ketenangan tersebut mulai berkembang menjadi keselarasan yang meliputi seluruh kehidupan manusia.
Tentrem dalam pengertian Uttamopadesa bukan sekadar perasaan nyaman ketika seseorang duduk bersamadhi, melainkan keadaan ketika cipta, rasa, dan karsa mulai hidup dalam keselarasan sehingga manusia tidak mudah dikuasai oleh gejolak yang muncul dari dalam dirinya maupun oleh berbagai keadaan yang datang dari luar.
Ketenteraman tersebut membuat manusia mampu menghadapi kehidupan dengan lebih tenang, karena pikiran tidak tergesa-gesa mengambil keputusan, rasa tidak mudah terbawa kemarahan atau kebencian, dan karsa semakin mantap memilih tindakan yang sesuai dengan kebajikan serta selaras dengan Tatananing Panguripan.
Dari Wening Menuju Tentrem.
Samadhi Tentrem tumbuh dari kejernihan yang telah mulai dibangun melalui Samadhi Wening, sebab ketenteraman tidak mungkin berkembang secara kokoh apabila cipta masih penuh dengan kegelisahan dan rasa masih mudah dikuasai oleh berbagai gejolak.
Wening memberikan kejernihan untuk melihat keadaan sebagaimana adanya, sedangkan Tentrem membuat kejernihan tersebut semakin menetap sehingga manusia tidak hanya mampu melihat gejolak dirinya, tetapi juga mampu menjaga agar gejolak tersebut tidak mengambil alih arah kehidupannya.
Pada tahap ini manusia mulai memiliki kemampuan yang lebih utuh dalam menghadapi berbagai keadaan yang sebelumnya mudah mengguncang dirinya, karena ia tidak lagi secara spontan membalas perkataan dengan kemarahan, membalas keburukan dengan keburukan, ataupun mengambil keputusan hanya berdasarkan dorongan emosi sesaat.
Ketika menghadapi persoalan, cipta memberikan ruang untuk memahami keadaan, rasa tetap dijaga agar tidak dikuasai kebencian, sedangkan karsa diarahkan untuk memilih tindakan yang paling baik bagi dirinya maupun bagi kehidupan bersama.
Dengan demikian, Tentrem bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri, melainkan hasil dari proses panjang ketika cipta menjadi bening, rasa menjadi halus, dan karsa semakin mantap menuju kebajikan.
Ketenteraman Cipta.
Ketenteraman cipta terlihat ketika pikiran tidak lagi terus-menerus berputar dalam kegelisahan, kekhawatiran, prasangka, dan berbagai pertimbangan yang hanya didorong oleh kepentingan pribadi.
Manusia tetap berpikir, tetap mempertimbangkan berbagai kemungkinan, dan tetap menggunakan akal untuk memahami persoalan, tetapi pikirannya tidak lagi mudah kehilangan keseimbangan ketika berhadapan dengan keadaan yang tidak sesuai dengan kehendaknya.
Cipta yang tenteram mampu memberikan ruang bagi manusia untuk melihat persoalan dengan lebih luas, sehingga ia tidak mudah mengambil kesimpulan hanya berdasarkan satu sisi atau pengalaman pribadi.
Dalam keadaan seperti ini, manusia menjadi lebih sabar dalam memahami sesuatu karena ia tidak merasa harus segera memberikan penilaian terhadap setiap persoalan yang muncul.
Ketenteraman cipta juga membuat manusia semakin mampu membedakan antara kenyataan dengan penafsiran pribadi, karena banyak kegelisahan sebenarnya muncul bukan semata-mata dari peristiwa yang terjadi, melainkan dari cara manusia memandang dan menanggapi peristiwa tersebut.
Ketenteraman Rasa.
Ketenteraman rasa merupakan perkembangan penting dalam Samadhi Tentrem karena rasa merupakan bagian kehidupan manusia yang sangat mudah dipengaruhi oleh hubungan dengan sesama dan keadaan yang terjadi di sekitarnya.
Kemarahan, kebencian, iri hati, rasa tersinggung, kesombongan, dan dorongan untuk membalas dapat membuat manusia kehilangan kejernihan apabila tidak disadari dan dikendalikan dengan baik.
Pada tahap Tentrem, berbagai perasaan tersebut tidak berarti hilang sepenuhnya, tetapi tidak lagi mudah menjadi penguasa atas perilaku manusia. Ketika seseorang mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan, misalnya, ia mulai mampu merasakan ketidaknyamanan tersebut tanpa langsung mengubahnya menjadi kebencian atau tindakan balasan.
Rasa yang tenteram membuat manusia lebih mudah memaafkan karena ia tidak lagi merasa bahwa setiap kesalahan harus dibalas, sekaligus membuat manusia semakin mampu memahami keadaan orang lain tanpa harus membenarkan semua perbuatannya.
Dari sinilah tumbuh kehalusan rasa yang kemudian menjadi dasar bagi hubungan yang lebih harmonis dengan sesama.
Ketenteraman Karsa.
Cipta yang jernih dan rasa yang tenteram perlu diwujudkan melalui karsa, sebab perubahan manusia tidak akan lengkap apabila kejernihan hanya berhenti sebagai pemahaman dan ketenteraman hanya dirasakan sebagai keadaan batin.
Karsa yang tenteram berarti kehendak manusia semakin mampu diarahkan kepada tindakan yang baik, sehingga keputusan yang dibuat tidak semata-mata mengikuti keinginan pribadi atau dorongan emosi sesaat.
Manusia mulai mampu menahan keinginan untuk menang sendiri, memperoleh pujian, menunjukkan kelebihan, ataupun membalas perlakuan yang dianggap merugikan dirinya, karena ia memahami bahwa tidak semua yang diinginkan harus dilakukan.
Karsa menjadi semakin mantap ketika manusia mampu memilih apa yang benar meskipun pilihan tersebut tidak selalu memberikan keuntungan bagi dirinya sendiri.
Dalam keadaan demikian, kebajikan tidak lagi hanya menjadi sesuatu yang diketahui, tetapi mulai menjadi arah nyata dalam menentukan sikap dan tindakan.
Tentrem dan Laku Sih.
Dalam ajaran Uttamopadesa, Samadhi Tentrem menjadi dasar tumbuhnya Laku Sih, karena kasih yang sejati tidak cukup hanya dirasakan sebagai perasaan dalam diri, tetapi perlu diwujudkan melalui tindakan nyata terhadap sesama makhluk.
Manusia yang tenteram tidak hanya berusaha menjaga kedamaian dirinya sendiri, tetapi juga semakin mampu menciptakan ketenteraman dalam lingkungan kehidupannya.
Laku Sih dapat terlihat melalui kesediaan membantu tanpa pamrih, menghargai sesama, tidak menyakiti tanpa alasan, memberi ruang kepada orang lain untuk berkembang, serta memilih penyelesaian yang tidak memperbesar pertentangan ketika suatu persoalan masih dapat diselesaikan dengan cara yang lebih baik.
Dengan demikian, kasih bukan sekadar perasaan yang menyenangkan, melainkan kebajikan yang diwujudkan melalui perilaku.
Semakin tenteram cipta, rasa, dan karsa seseorang, semakin mudah pula kasih diwujudkan secara nyata karena manusia tidak lagi terlalu sibuk mempertahankan kepentingan dirinya sendiri.
Ukuran Samadhi tercermin dalam Perilaku.
Salah satu prinsip penting dalam Samadhi Tentrem adalah bahwa keberhasilan samadhi tidak diukur dari lamanya seseorang duduk bermeditasi atau dari dalamnya pengalaman yang dirasakan ketika bersamadhi.
Pengalaman batin tidak menjadi ukuran utama apabila tidak menghasilkan perubahan dalam kehidupan, karena tujuan samadhi dalam Uttamopadesa adalah membawa manusia menuju kehidupan yang lebih selaras.
Seseorang dapat duduk bersamadhi dalam waktu lama, tetapi apabila setelah bangkit ia masih mudah marah, suka merendahkan sesama, sulit memaafkan, selalu ingin menang sendiri, dan tetap dikuasai oleh kesombongan, maka ketenteraman tersebut belum menjadi bagian yang nyata dari kehidupannya.
Sebaliknya, ketika seseorang semakin sabar menghadapi persoalan, semakin mudah memaafkan, semakin peduli terhadap sesama, semakin rendah hati, dan semakin mampu mengendalikan kehendaknya ketika berhadapan dengan kepentingan pribadi, maka di situlah buah samadhi mulai terlihat secara nyata.
Tentrem sebagai Cara Hidup.
Samadhi Tentrem tidak dimaksudkan untuk membuat manusia melarikan diri dari kehidupan, karena justru kehidupan sehari-hari merupakan tempat untuk membuktikan apakah ketenteraman tersebut benar-benar telah tumbuh. Keluarga, pekerjaan, hubungan sosial, perbedaan pendapat, keberhasilan, kegagalan, maupun berbagai persoalan kehidupan menjadi ruang bagi manusia untuk menguji kejernihan cipta, kehalusan rasa, dan kebaikan karsa.
Ketenteraman yang sejati membuat manusia tetap mampu berdiri teguh ketika menghadapi keadaan yang tidak menyenangkan tanpa harus kehilangan kelembutan dalam memperlakukan sesama.
Ia tidak harus menyetujui semua hal, tetapi mampu berbeda tanpa membenci, mampu menolak tanpa merendahkan, mampu mengingatkan tanpa menyakiti, dan mampu mempertahankan kebenaran tanpa menjadikan dirinya lebih tinggi daripada orang lain.
Dalam keadaan tersebut, tentrem mulai berubah dari pengalaman menjadi watak, dan dari watak berkembang menjadi cara hidup.
Tentrem Menuju Samadhi Kawruh.
Samadhi Tentrem menjadi jembatan menuju Samadhi Kawruh, karena ketika cipta, rasa, dan karsa telah semakin tenteram dan selaras, manusia berada dalam keadaan yang lebih siap menerima pengetahuan sebagai penuntun kehidupan.
Pengetahuan tidak lagi sekadar digunakan untuk memperkuat pendapat pribadi, memenangkan perdebatan, atau menunjukkan kelebihan diri, tetapi mulai ditempatkan sebagai cahaya yang membantu manusia memahami kehidupan secara lebih luas.
Dengan demikian, perjalanan Nawa Samadhi Uttamopadesa pada tahap ini bergerak dari kejernihan menuju ketenteraman, kemudian dari ketenteraman menuju pemahaman yang lebih mendalam. Samadhi Tentrem menjadi titik penting karena manusia mulai mengalami kesatuan yang lebih nyata antara apa yang dipikirkan, apa yang dirasakan, dan apa yang dilakukan.
Pada akhirnya, Samadhi Tentrem menunjukkan bahwa ketenteraman bukan berarti kehidupan tanpa persoalan, melainkan kemampuan untuk menghadapi persoalan tanpa kehilangan kejernihan cipta, kehalusan rasa, dan kebaikan karsa.
Ketika manusia semakin rendah hati, semakin suka menolong, semakin menghargai sesama, semakin mudah memaafkan, serta semakin mencintai kerukunan dan keselarasan, maka samadhi telah mulai menemukan wujudnya dalam kehidupan nyata.
Dengan demikian, Samadhi Tentrem benar-benar hidup ketika cipta menjadi bening, rasa menjadi halus, karsa menjadi baik, dan budi berkembang menjadi luhur, sehingga ketenteraman tidak lagi hanya menjadi keadaan ketika bersamadhi, tetapi menjadi dasar bagi manusia dalam menjalani kehidupan yang selaras dengan Tatananing Panguripan.
FAQ - SAMADHI TENTREM UTTAMOPADESA.
1. Apa yang dimaksud dengan Samadhi Tentrem Uttamopadesa?
Samadhi Tentrem adalah tahap keempat dalam Nawa Samadhi Uttamopadesa ketika ketenteraman mulai meliputi cipta, rasa, dan karsa, sehingga ketiganya semakin selaras dan mampu mengarahkan manusia kepada kebajikan dalam kehidupan sehari-hari.
2. Apa perbedaan Samadhi Wening dan Samadhi Tentrem?
Samadhi Wening terutama menunjukkan tumbuhnya kejernihan setelah manusia mampu mengamati dirinya, sedangkan Samadhi Tentrem menunjukkan perkembangan ketika kejernihan tersebut semakin menetap dan mulai menyelaraskan cipta, rasa, serta karsa dalam menghadapi kehidupan.
3. Apakah Samadhi Tentrem berarti tidak pernah marah?
Tidak, karena kemarahan sebagai rasa dapat tetap muncul ketika manusia menghadapi keadaan tertentu, tetapi orang yang mulai menghayati Tentrem tidak mudah membiarkan kemarahan tersebut menguasai cipta dan karsanya hingga menghasilkan tindakan yang merugikan.
4. Bagaimana tanda Samadhi Tentrem dalam kehidupan sehari-hari?
Tandanya terlihat melalui perubahan perilaku, seperti semakin sabar menghadapi persoalan, lebih mudah memaafkan, tidak suka membalas keburukan dengan keburukan, lebih peduli kepada sesama, serta semakin mampu memilih tindakan berdasarkan kejernihan dan kebajikan.
5. Apakah Samadhi Tentrem hanya dilakukan ketika duduk bersamadhi?
Tidak, karena samadhi dalam Uttamopadesa tidak dimaksudkan sebagai pelarian dari kehidupan, sehingga ketenteraman yang diperoleh harus dibawa ke dalam hubungan dengan sesama, pekerjaan, keluarga, dan berbagai persoalan yang dihadapi setiap hari.
6. Apa hubungan Samadhi Tentrem dengan Laku Sih?
Samadhi Tentrem menjadi dasar tumbuhnya Laku Sih karena ketenteraman membuat manusia semakin mampu mewujudkan kasih melalui tindakan nyata, seperti membantu, menghargai, menjaga kerukunan, dan tidak membalas keburukan dengan keburukan.
7. Apakah lamanya bermeditasi menjadi ukuran keberhasilan Samadhi Tentrem?
Tidak, karena ukuran utama samadhi bukanlah lamanya seseorang duduk bermeditasi atau dalamnya pengalaman yang dirasakan, melainkan perubahan nyata pada perilaku, watak, dan cara manusia menjalani kehidupannya.
8. Mengapa cipta, rasa, dan karsa harus selaras?
Cipta, rasa, dan karsa perlu selaras agar apa yang dipikirkan, dirasakan, dan dilakukan tidak saling bertentangan, sehingga keputusan dan tindakan manusia dapat lahir dari kejernihan serta semakin sesuai dengan kebajikan dan Tatananing Panguripan.
9. Apa hubungan Samadhi Tentrem dengan budi?
Ketenteraman cipta, rasa, dan karsa memberikan ruang bagi budi untuk berkembang menjadi semakin luhur, karena manusia tidak lagi terlalu dikuasai oleh pamrih, kesombongan, kebencian, dan berbagai dorongan yang dapat menjauhkan dirinya dari kebajikan.
10. Apa tahap setelah Samadhi Tentrem?
Tahap berikutnya adalah Samadhi Kawruh, ketika pengetahuan mulai menjadi penuntun kehidupan dan digunakan bukan untuk membanggakan diri, melainkan untuk membantu manusia memahami kehidupan serta menjalani perjalanan menuju keselarasan dengan Tatananing Panguripan.
** Sumber artikel :
NAWA SAMADHI UTTAMOPADESA

Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar dengan sopan, jangan spam.