Sembilan Sumber Penyimpangan Laku Kehidupan.
Pendahuluan.
Dalam kehidupan manusia, penyimpangan perilaku sering kali tidak dimulai dari tindakan yang tampak di luar, melainkan dari gerak cipta yang tumbuh di dalam diri.
Sebelum seseorang berbicara atau bertindak, terlebih dahulu terdapat pikiran, pandangan, keinginan, perasaan, dan kehendak yang membentuk arah tindakannya.
Karena itu, memperbaiki perilaku tidak cukup hanya dengan mengubah tindakan yang terlihat, tetapi juga perlu memahami dan membersihkan sumber yang melahirkannya, yaitu cipta.
Nawa Malaning Cipta adalah sembilan sumber penyimpangan laku yang tumbuh dari kecenderungan cipta dan dapat menutupi kejernihan budi.
Sembilan sumber tersebut adalah Pambengkakan Aku, Ngluru Ganjaran, Ora Rena Liyan, Sumeru, Sumedhot, Salahe Pamawas, Kepéngin Nguasani, Kaserakahan, dan Lali Marang Kasunyatan.
Sembilan sumber tersebut tidak dimaksudkan sebagai ajaran untuk mencari kesalahan orang lain. Sebaliknya, semuanya merupakan cermin untuk melihat keadaan diri sendiri. Setiap manusia berpeluang mengalami salah satu atau beberapa bentuk penyimpangan cipta dalam perjalanan hidupnya.
Karena itu, memahami Nawa Malaning Cipta berarti belajar mengenali kecenderungan dalam diri sebelum kecenderungan tersebut berkembang menjadi perkataan dan tindakan.
Tujuan akhirnya bukan menjadikan manusia merasa paling bersih, melainkan menumbuhkan kemauan untuk terus mengawasi, memperbaiki, dan membersihkan cipta agar rasa menjadi lebih halus, kehendak menjadi lebih utama, dan laku kehidupan semakin selaras dengan tatanan kehidupan.
1. Pambengkakan Aku (Kumingsun).
Pambengkakan Aku atau kumingsun adalah kecenderungan cipta yang membuat seseorang merasa dirinya paling benar, paling utama, atau lebih tinggi daripada orang lain.
Orang yang dikuasai kumingsun biasanya sulit menerima nasihat, kritik, maupun pandangan yang berbeda karena pikirannya telah dipenuhi keyakinan bahwa dirinya lebih mengetahui dan lebih mampu.
Dari keadaan tersebut dapat tumbuh sikap suka memamerkan kelebihan, meremehkan orang lain, tidak mau belajar, dan sulit mengakui kesalahan.
Kumingsun menjadi penghalang bagi tumbuhnya kebijaksanaan, karena seseorang yang merasa sudah paling benar tidak lagi menyediakan ruang bagi dirinya untuk belajar.
Membersihkan Pambengkakan Aku dilakukan dengan menumbuhkan kerendahan hati.
Rendah hati bukan berarti merendahkan diri, melainkan menyadari bahwa pengetahuan dan kemampuan manusia selalu memiliki batas.
Dengan kerendahan hati, seseorang tetap dapat memiliki keyakinan tanpa kehilangan kesediaan untuk mendengar dan belajar.
2. Ngluru Ganjaran (Pamrih).
Ngluru Ganjaran atau pamrih adalah kecenderungan melakukan sesuatu dengan harapan mendapatkan balasan tertentu.
Perbuatan baik dilakukan bukan semata-mata karena menyadari bahwa tindakan tersebut memang baik, tetapi karena mengharapkan keuntungan, pujian, penghargaan, kedudukan, atau balasan dari orang lain.
Ketika balasan yang diharapkan tidak datang, seseorang mudah kecewa, merasa tidak dihargai, kemudian mengeluh. Akibatnya, kebaikan yang seharusnya membawa ketenteraman justru menjadi sumber kegelisahan.
Cipta yang bersih belajar memahami bahwa kebaikan tidak selalu membutuhkan balasan dari luar. Perbuatan baik yang dilakukan dengan tulus telah memberikan buah bagi pelakunya sendiri, karena melahirkan rasa lega, tenteram, dan kejernihan batin.
Ketulusan membuat seseorang mampu berbuat baik tanpa terus menghitung apa yang akan diterimanya kembali.
3. Ora Rena Liyan (Drengki).
Ora Rena Liyan atau drengki adalah keadaan ketika seseorang tidak mampu merasa senang melihat kebahagiaan, keberhasilan, atau kemajuan orang lain. Bahkan, terkadang seseorang merasa lebih puas ketika orang lain mengalami kegagalan daripada ketika mereka berhasil.
Drengki sering muncul karena kebiasaan membandingkan diri. Ketika kehidupan selalu diukur berdasarkan pencapaian orang lain, keberhasilan sesama dapat terasa seperti ancaman terhadap harga diri sendiri.
Jika dibiarkan, drengki dapat mengikis persaudaraan, menimbulkan perselisihan, dan menghilangkan rasa kasih terhadap sesama.
Membersihkannya berarti belajar memahami bahwa keberhasilan orang lain tidak mengurangi nilai kehidupan kita.
Kebahagiaan orang lain bahkan dapat menjadi sumber inspirasi dan dorongan untuk memperbaiki diri.
4. Sumeru (Sengit).
Sumeru atau sengit adalah kecenderungan cipta untuk menyimpan rasa benci, permusuhan, dan ketidaksukaan terhadap seseorang dalam waktu yang panjang. Rasa tersebut tidak hilang karena terus diingat dan dipelihara dalam pikiran.
Ketika seseorang terus menghidupkan pengalaman buruk di dalam cipta, luka lama dapat menjadi semakin kuat. Dari sana dapat muncul keinginan membalas, memisahkan diri, bahkan membangun permusuhan baru.
Sengit yang dipelihara pada akhirnya lebih dahulu membebani diri sendiri. Karena itu, membersihkan Sumeru bukan berarti membenarkan kesalahan orang lain.
Melepaskan kebencian berarti membebaskan cipta dari beban yang terus mengikatnya pada peristiwa masa lalu.
5. Sumedhot (Wedi).
Sumedhot atau wedi adalah kecenderungan cipta yang membuat manusia dikuasai rasa takut sehingga kehilangan kejernihan dalam berpikir dan mengambil keputusan.
Rasa takut merupakan bagian dari kehidupan manusia. Namun, ketika rasa takut tidak dikendalikan, seseorang dapat menjadi ragu-ragu, mudah terpengaruh, dan kehilangan keberanian untuk melakukan sesuatu yang sebenarnya benar.
Keberanian bukan berarti tidak memiliki rasa takut. Keberanian adalah kemampuan untuk tetap berpikir jernih dan melakukan hal yang benar meskipun rasa takut hadir di dalam diri.
Dengan demikian, membersihkan Sumedhot bukan dengan menghilangkan semua ketakutan, tetapi dengan menempatkan rasa takut pada tempatnya agar tidak menguasai cipta.
6. Salahe Pamawas (Prasangka).
Salahe Pamawas atau prasangka adalah kecenderungan menetapkan penilaian sebelum memahami kenyataan secara lengkap.
Cipta lebih dahulu membuat kesimpulan berdasarkan dugaan daripada berdasarkan keadaan yang sebenarnya.
Prasangka dapat melahirkan salah paham, tuduhan, penilaian yang tidak adil, dan bahkan permusuhan.
Seseorang dapat menilai orang lain hanya berdasarkan apa yang terlihat sekilas tanpa mengetahui alasan, keadaan, atau kenyataan yang melatarbelakanginya.
Karena itu, cipta yang bersih perlu memiliki kebiasaan untuk mendengar, mengamati, memeriksa, dan mempertimbangkan sebelum membuat kesimpulan.
Tidak semua hal yang tampak pada pandangan pertama merupakan gambaran keseluruhan dari kenyataan.
7. Kepéngin Nguasani (Mengkoni).
Kepéngin Nguasani atau mengkoni adalah kecenderungan untuk selalu ingin mengatur, memaksa, dan membuat orang lain mengikuti kehendak diri sendiri.
Keinginan menguasai muncul ketika seseorang menganggap bahwa pendapat dan kehendaknya sendiri paling baik sehingga tidak memberi ruang bagi kebebasan orang lain.
Jika berkembang menjadi kebiasaan, keadaan ini dapat melahirkan pemaksaan, hilangnya rasa saling menghargai, dan rusaknya persaudaraan.
Piwulang yang penting dari bagian ini adalah bahwa kekuasaan yang paling utama bukanlah kemampuan menguasai orang lain, melainkan kemampuan menguasai diri sendiri.
Orang yang mampu mengendalikan cipta, rasa, dan karsanya memiliki kekuasaan yang jauh lebih bermakna daripada orang yang hanya mampu memaksakan kehendak kepada sesamanya.
8. Kaserakahan (Ora Wareg).
Kaserakahan atau ora wareg adalah kecenderungan untuk tidak pernah merasa cukup dengan apa yang telah dimiliki.
Keinginan untuk memiliki terus berkembang meskipun kebutuhan sebenarnya telah terpenuhi.
Kaserakahan tidak hanya berkaitan dengan harta benda. Ia juga dapat muncul dalam bentuk keinginan mendapatkan kedudukan yang lebih tinggi, pujian yang lebih banyak, kekuasaan yang lebih besar, atau pengakuan yang tidak pernah selesai.
Masalah utama bukan terletak pada keinginan untuk berkembang, melainkan pada keadaan ketika keinginan kehilangan batas dan tidak pernah mengenal rasa cukup. Cipta akhirnya selalu dikejar oleh sesuatu yang belum dimiliki.
Karena itu, membersihkan Kaserakahan berarti belajar mengenal batas, merasa cukup, menerima apa yang telah dimiliki, dan menggunakan segala sesuatu yang ada untuk kebaikan.
Kekayaan sejati bukan hanya karena banyaknya kepemilikan, melainkan kemampuan batin untuk merasa cukup dan hidup secara bermakna.
9. Lali Marang Kasunyatan (Cidra).
Lali Marang Kasunyatan atau cidra merupakan sumber penyimpangan yang paling mendasar karena menunjukkan keadaan ketika manusia terputus dari kesadaran terhadap kenyataan hidup dan melupakan Hyang Manon sebagai Sumber Panguripan.
Ketika manusia lebih mengikuti keinginan pribadi, pandangan sendiri, dan perasaan yang tidak terkendali daripada memahami tatanan kehidupan, cipta menjadi semakin jauh dari kejernihan.
Dari keadaan inilah berbagai sumber penyimpangan cipta lainnya dapat tumbuh.
Pambengkakan Aku, Ngluru Ganjaran, Ora Rena Liyan, Sumeru, Sumedhot, Salahe Pamawas, Kepéngin Nguasani, dan Kaserakahan dapat berkembang ketika manusia kehilangan kesadaran terhadap kenyataan yang lebih mendasar.
Karena itu, Lali Marang Kasunyatan dapat dipandang sebagai akar dari berbagai penyimpangan cipta. Ketika manusia kembali eling terhadap kenyataan dan Hyang Manon sebagai Sumber Panguripan, kejernihan budi dapat kembali menyala.
Cipta menjadi lebih bening, rasa menjadi lebih halus, karsa menjadi lebih utama, dan laku menjadi lebih selaras dengan tatanan kehidupan.
Nawa Malaning Cipta sebagai Cermin Diri.
Kesembilan sumber penyimpangan laku tersebut sebaiknya tidak digunakan untuk menunjuk dan menilai kesalahan orang lain.
Nilai utama dari ajaran ini justru terletak pada keberanian untuk melihat diri sendiri.
Manusia dapat bertanya kepada dirinya:
Apakah aku masih merasa paling benar?
Apakah kebaikanku masih mengharapkan balasan?
Apakah aku sulit merasa bahagia melihat keberhasilan orang lain?
Apakah aku masih menyimpan kebencian?
Apakah rasa takut sering menguasai keputusan?
Apakah aku mudah berprasangka?
Apakah aku senang mengatur kehidupan orang lain?
Apakah aku selalu merasa kurang?
Dan apakah aku masih ingat pada kenyataan kehidupan?
Pertanyaan semacam itu menjadi awal dari mawas dhiri. Dengan mawas dhiri, seseorang mulai mengenali keadaan cipta tanpa menyembunyikannya. Dari pengenalan tersebut muncul kemauan untuk memperbaiki diri.
Inilah pentingnya Nawa Malaning Cipta. Ia bukan sekadar daftar sifat yang harus dihindari, tetapi sebuah peta untuk memahami bagaimana penyimpangan dapat tumbuh dari cipta dan bagaimana manusia dapat kembali membersihkannya.
Hubungan Cipta, Rasa, Karsa, dan Laku.
Cipta memiliki hubungan erat dengan rasa, karsa, dan laku. Apa yang terus dipikirkan dapat memengaruhi rasa. Rasa kemudian memengaruhi kehendak, dan kehendak mendorong tindakan.
Jika cipta dipenuhi kesombongan, misalnya, rasa dapat menjadi sulit menerima orang lain. Dari sana muncul kehendak untuk mempertahankan keunggulan diri, lalu diwujudkan dalam tindakan meremehkan atau memaksakan kehendak.
Sebaliknya, ketika cipta dibersihkan, rasa menjadi lebih tenang dan karsa lebih mudah diarahkan kepada kebaikan.
Karena itu, perubahan perilaku yang sejati tidak hanya dilakukan pada tingkat tindakan, tetapi dimulai dari sumbernya.
Membersihkan cipta berarti memperbaiki arah kehidupan dari dalam.
Penutup.
Nawa Malaning Cipta mengajarkan bahwa berbagai penyimpangan laku sering kali memiliki akar yang lebih dalam daripada sekadar tindakan yang tampak. Akar tersebut berada dalam cipta: bagaimana manusia memandang dirinya, memandang orang lain, memandang kehidupan, dan memandang kenyataan.
Sembilan sumber penyimpangan laku tersebut menjadi pengingat agar manusia tidak lengah terhadap gerak cipta dan keadaan batinnya sendiri.
Pambengkakan Aku perlu dijawab dengan kerendahan hati, Ngluru Ganjaran dijawab dengan ketulusan, Ora Rena Liyan dijawab dengan kemampuan ikut bersukacita, Sumeru diganti dengan kelapangan hati, Sumedhot diganti dengan keberanian, Salahe Pamawas diubah dengan kejernihan melihat, Kepéngin Nguasani diubah dengan penguasaan diri, Kaserakahan diganti dengan rasa cukup, dan Lali Marang Kasunyatan diubah dengan eling terhadap sumber kehidupan.
Pada akhirnya, membersihkan cipta bukanlah usaha untuk menjadi manusia tanpa kekurangan. Ia merupakan laku untuk terus menyadari kekurangan, mengoreksi diri, dan kembali kepada jalan yang lebih utama.
Ketika cipta semakin bening, rasa semakin halus, dan karsa semakin tertata, perubahan itu akan tampak dalam laku kehidupan. Dari sanalah ketenteraman tidak lagi sekadar dicari di luar diri, tetapi mulai tumbuh dari kejernihan batin sendiri.
FAQ – Nawa Malaning Cipta Uttamopadesa.
Apa yang dimaksud dengan Nawa Malaning Cipta?
Nawa Malaning Cipta adalah sembilan sumber penyimpangan laku yang tumbuh dari kecenderungan dalam cipta dan dapat menutupi kejernihan budi, yaitu Pambengkakan Aku, Ngluru Ganjaran, Ora Rena Liyan, Sumeru, Sumedhot, Salahe Pamawas, Kepéngin Nguasani, Kaserakahan, dan Lali Marang Kasunyatan.
Apakah Nawa Malaning Cipta merupakan daftar sifat buruk manusia?
Bukan. Nawa Malaning Cipta lebih tepat dipahami sebagai cermin untuk mawas diri. Tujuannya bukan memberi cap buruk kepada seseorang, tetapi membantu manusia mengenali kecenderungan dalam dirinya yang dapat menjadi sumber penyimpangan laku.
Mengapa sumber penyimpangan laku perlu dikenali?
Karena penyimpangan laku sering kali berawal dari cipta. Pikiran dan pandangan yang terus dipelihara dapat memengaruhi rasa, kemudian memengaruhi karsa dan akhirnya diwujudkan dalam tindakan.
Apa sumber penyimpangan yang paling mendasar?
Dalam kerangka Nawa Malaning Cipta, Lali Marang Kasunyatan dipandang sebagai yang paling mendasar karena ketika manusia kehilangan kesadaran terhadap kenyataan dan Hyang Manon sebagai Sumber Panguripan, kecenderungan penyimpangan cipta lainnya lebih mudah berkembang.
Bagaimana cara membersihkan sumber penyimpangan laku?
Langkah awalnya adalah mawas diri dengan jujur, mengenali kecenderungan yang muncul, tidak membenarkannya, kemudian melatih kebiasaan yang berlawanan dengan kecenderungan tersebut. Prosesnya dilakukan secara bertahap dan terus-menerus.
Apakah membersihkan cipta berarti harus menjauhi kehidupan duniawi?
Tidak. Membersihkan cipta bukan berarti meninggalkan kehidupan, melainkan belajar menjalani kehidupan dengan lebih jernih, terkendali, tulus, dan selaras dengan kebaikan.
Apa hubungan Nawa Malaning Cipta dengan cipta, rasa, dan karsa?
Cipta mempengaruhi rasa, rasa mempengaruhi karsa, dan karsa diwujudkan dalam laku. Karena itu, membersihkan cipta dapat membantu menata rasa, mengarahkan karsa, dan memperbaiki perilaku.
**Sumber artikel :
SERAT NAWA MALANING CIPTA.
Artikel-artikel pendalaman :

Komentar
Posting Komentar