Mala Ngluru Ganjaran, Pamrih
Mala Ngluru Ganjaran atau Pamrih merupakan salah satu bentuk penyimpangan laku yang muncul ketika seseorang melakukan sesuatu dengan harapan memperoleh balasan tertentu.
Perbuatan yang secara lahiriah tampak baik belum tentu sepenuhnya lahir dari ketulusan, karena di balik tindakan tersebut dapat tersimpan keinginan untuk mendapatkan keuntungan, pujian, penghargaan, kedudukan, perhatian, atau balasan tertentu dari orang lain.
Pamrih pada dasarnya berkaitan dengan cara seseorang menempatkan kepentingan dirinya di balik suatu perbuatan. Ketika seseorang berbuat baik karena mengharapkan sesuatu sebagai gantinya, perhatian tidak lagi sepenuhnya tertuju kepada nilai kebaikan yang dilakukan, melainkan kepada apa yang akan diterima setelah perbuatan tersebut selesai.
Karena itu, Ngluru Ganjaran perlu dikenali agar perbuatan baik tidak berubah menjadi transaksi tersembunyi antara diri sendiri dengan orang lain.
Pengertian Mala Ngluru Ganjaran.
Istilah Ngluru Ganjaran secara sederhana dapat dipahami sebagai mencari atau mengejar ganjaran atau pujian melalui suatu perbuatan. Dalam konteks laku, yang dimaksud bukan hanya mencari imbalan berupa benda atau uang, tetapi juga segala bentuk balasan yang diharapkan dari orang lain.
Seseorang dapat melakukan kebaikan karena ingin dipuji, membantu orang lain karena ingin dianggap berjasa, memberikan sesuatu karena berharap suatu saat mendapatkan bantuan kembali, atau mengambil suatu tanggung jawab karena mengharapkan kedudukan tertentu. Semua itu dapat menjadi bentuk pamrih apabila balasan yang diharapkan menjadi alasan utama di balik perbuatannya.
Dengan demikian, persoalan Ngluru Ganjaran bukan terletak pada adanya hasil atau penghargaan setelah seseorang melakukan kebaikan. Persoalannya terletak pada dorongan yang mendasari perbuatan tersebut.
Apabila penghargaan datang tanpa diminta dan diterima sewajarnya, hal itu berbeda dengan melakukan kebaikan sejak awal karena mengejar penghargaan.
Bagaimana Pamrih Tumbuh?.
Pamrih dapat tumbuh dari kebiasaan menghubungkan perbuatan dengan balasan. Sejak kehidupan sehari-hari, seseorang sering mengalami keadaan ketika suatu tindakan menghasilkan keuntungan tertentu. Kebiasaan tersebut dapat membentuk pola pikir bahwa setiap usaha seharusnya memberikan imbalan.
Dalam batas tertentu, pertimbangan mengenai hasil memang merupakan bagian dari kehidupan. Namun, ketika pola tersebut dibawa ke dalam setiap perbuatan baik, seseorang dapat kehilangan kemampuan untuk melakukan sesuatu karena menyadari bahwa tindakan itu memang benar dan bermanfaat.
Keinginan untuk mendapatkan pengakuan juga dapat memperkuat pamrih. Seseorang mungkin merasa senang ketika kebaikannya diketahui orang lain, kemudian secara perlahan mulai mengharapkan pujian setiap kali melakukan sesuatu.
Ketika pujian tidak datang, ia merasa kecewa, padahal sebelumnya ia melakukan tindakan tersebut dengan alasan ingin berbuat baik.
Dari sinilah pamrih dapat menjadi sumber kegelisahan.
Ciri-Ciri Ngluru Ganjaran.
Pamrih dapat dikenali melalui perubahan sikap seseorang ketika balasan yang diharapkan tidak diperoleh. Seseorang yang melakukan sesuatu dengan pamrih biasanya lebih mudah merasa kecewa ketika usahanya tidak dihargai, bantuan yang diberikan tidak dibalas, atau kebaikannya tidak diketahui oleh orang lain.
Ia dapat mulai berpikir bahwa dirinya telah banyak berbuat untuk orang lain, sementara orang lain tidak memberikan sesuatu yang sepadan. Perasaan tersebut kemudian dapat berkembang menjadi keluhan, rasa tidak dihargai, bahkan kemarahan.
Ciri lainnya adalah kecenderungan untuk selalu mengingat jasa yang telah diberikan. Seseorang mungkin terus menyimpan catatan dalam pikirannya mengenai siapa yang pernah dibantu, berapa banyak yang telah diberikan, dan apa yang seharusnya diterima sebagai balasan.
Ketika hubungan dengan orang lain berubah menjadi perhitungan semacam itu, ketenteraman dalam berbuat baik menjadi semakin sulit diperoleh.
Pamrih juga dapat muncul dalam bentuk yang lebih halus, yaitu keinginan agar kebaikan yang dilakukan diketahui oleh orang lain. Bukan berarti setiap orang yang menceritakan kebaikannya pasti memiliki pamrih, tetapi apabila pengakuan dari luar menjadi kebutuhan utama, keadaan tersebut perlu diperiksa kembali.
Dampak Pamrih terhadap Laku.
Ngluru Ganjaran dapat membuat seseorang kehilangan ketenteraman dalam menjalankan kebaikan. Ketika kebaikan selalu diikuti oleh harapan tertentu, keberhasilan mendapatkan balasan akan menghasilkan kegembiraan, sedangkan kegagalan mendapatkan balasan akan menghasilkan kekecewaan.
Dengan demikian, keadaan diri menjadi bergantung pada tanggapan orang lain. Ketenteraman tidak lagi ditentukan oleh keyakinan bahwa seseorang telah melakukan sesuatu yang baik, tetapi oleh apakah orang lain memberikan penghargaan sesuai dengan harapannya.
Keadaan tersebut juga dapat mengurangi kemurnian hubungan antarmanusia. Bantuan yang semestinya menjadi wujud kepedulian dapat berubah menjadi semacam utang yang suatu saat ditagih kembali. Pemberian yang semestinya membahagiakan dapat berubah menjadi alat untuk mendapatkan kedudukan atau pengaruh.
Jika berlangsung terus-menerus, seseorang dapat merasa lelah karena selalu menghitung hasil dari setiap perbuatan yang dilakukan.
Pamrih dalam Perbuatan Baik.
Tidak semua perbuatan yang menghasilkan keuntungan dapat disebut pamrih. Seseorang yang bekerja dan menerima upah, misalnya, menjalankan hubungan yang memang didasarkan pada kesepakatan. Demikian pula seseorang yang belajar dengan tujuan memperoleh pengetahuan atau keterampilan, karena tujuan tersebut merupakan bagian wajar dari proses belajar.
Pamrih menjadi persoalan ketika kebaikan dilakukan terutama sebagai alat untuk mendapatkan balasan tertentu, sehingga nilai kebaikan itu sendiri menjadi nomor dua.
Perbedaan ini penting agar seseorang tidak salah memahami ketulusan. Ketulusan bukan berarti menolak setiap bentuk penghargaan atau menganggap bahwa seseorang tidak boleh menerima manfaat dari perbuatannya. Ketulusan berarti tidak menjadikan balasan sebagai syarat utama untuk melakukan kebaikan.
Membersihkan Mala Ngluru Ganjaran.
Membersihkan Ngluru Ganjaran dilakukan dengan menumbuhkan ketulusan. Ketulusan berarti mampu melakukan sesuatu yang baik karena memahami bahwa tindakan tersebut memang patut dilakukan, bukan semata-mata karena ingin memperoleh balasan.
Ketulusan dapat dilatih dengan mengurangi kebiasaan menghitung jasa, mengurangi kebutuhan untuk mendapatkan pujian, dan belajar menerima kenyataan bahwa tidak semua kebaikan akan diketahui atau dibalas oleh orang lain.
Seseorang juga perlu belajar membedakan antara hasil perbuatan dan nilai perbuatan. Hasil mungkin berada di luar kendali manusia, sedangkan nilai dari suatu tindakan dapat ditentukan oleh niat dan cara seseorang menjalankannya.
Ketika membantu seseorang, misalnya, kita tidak selalu dapat menentukan apakah orang tersebut akan mengucapkan terima kasih atau memberikan bantuan kembali. Namun, kita dapat menentukan apakah bantuan tersebut diberikan dengan tulus atau dengan harapan tersembunyi.
Di sinilah kejernihan cipta menjadi penting. Cipta yang bersih tidak terus-menerus bertanya, “Apa yang akan aku dapatkan?”, tetapi mampu mempertimbangkan, “Apakah yang aku lakukan memang baik dan patut dilakukan?”
Buah dari Ketulusan.
Ketulusan bukan berarti seseorang tidak memperoleh apa-apa dari perbuatannya. Justru kebaikan yang dilakukan dengan tulus dapat memberikan buah yang tidak selalu berbentuk materi atau penghargaan dari luar.
Perbuatan baik dapat melahirkan rasa lega karena seseorang mengetahui bahwa dirinya telah melakukan sesuatu yang bermanfaat. Kebaikan juga dapat menghadirkan ketenteraman karena tidak ada tuntutan tersembunyi yang harus dipenuhi oleh orang lain.
Ketika seseorang tidak lagi sibuk menghitung balasan, hubungan dengan sesama menjadi lebih ringan. Ia dapat membantu tanpa merasa memiliki orang yang dibantu, memberi tanpa terus menunggu pengembalian, dan berbuat baik tanpa menjadikan kebaikannya sebagai alasan untuk merasa lebih tinggi.
Ketulusan dengan demikian bukan hanya membuat perbuatan menjadi lebih bersih, tetapi juga membebaskan diri dari kegelisahan yang muncul karena harapan terhadap balasan.
Ngluru Ganjaran dan Kejernihan Cipta.
Pada akhirnya, Mala Ngluru Ganjaran merupakan keadaan yang perlu dikenali melalui pemeriksaan terhadap dorongan yang berada di balik setiap tindakan. Dua orang dapat melakukan perbuatan yang sama, tetapi memiliki dorongan yang berbeda.
Seseorang dapat membantu karena benar-benar ingin meringankan beban orang lain, sedangkan orang lain dapat melakukan hal yang sama karena ingin mendapatkan pujian atau jasa yang dapat ditagih kemudian.
Karena itu, kebersihan laku tidak cukup dinilai dari apa yang terlihat oleh orang lain. Dorongan yang menggerakkan tindakan juga perlu diperiksa oleh diri sendiri.
Membersihkan pamrih bukan berarti berhenti mengharapkan hasil dari usaha yang memang sewajarnya memiliki hasil. Yang perlu dibersihkan adalah kecenderungan menjadikan balasan sebagai ukuran utama dari kebaikan.
Ketulusan membuat seseorang mampu berbuat baik tanpa terus menghitung apa yang akan diterimanya kembali. Ketika kebaikan tidak lagi menjadi transaksi, laku menjadi lebih ringan, hubungan dengan sesama menjadi lebih sehat, dan cipta memperoleh ruang untuk tumbuh dalam kejernihan.
FAQ - Mala Ngluru Ganjaran, Pamrih.
Apa yang dimaksud dengan Mala Ngluru Ganjaran?
Mala Ngluru Ganjaran adalah kecenderungan melakukan sesuatu dengan harapan mendapatkan balasan tertentu, baik berupa keuntungan, pujian, penghargaan, kedudukan, perhatian, maupun bentuk balasan lainnya.
Apa arti pamrih dalam konteks laku?
Pamrih adalah dorongan untuk mendapatkan keuntungan atau balasan dari suatu perbuatan, terutama ketika balasan tersebut menjadi alasan utama seseorang melakukan tindakan yang sebenarnya tampak sebagai kebaikan.
Apakah menerima penghargaan berarti memiliki pamrih?
Tidak selalu. Menerima penghargaan secara wajar berbeda dengan melakukan kebaikan terutama karena mengejar penghargaan. Yang perlu diperhatikan adalah dorongan yang mendasari perbuatan tersebut.
Apa tanda seseorang melakukan kebaikan dengan pamrih?
Tandanya antara lain mudah kecewa ketika tidak dihargai, sering mengingat jasa yang telah diberikan, berharap kebaikannya diketahui, merasa orang lain berutang kepadanya, serta mudah mengeluh ketika balasan yang diharapkan tidak datang.
Bagaimana cara mengurangi pamrih?
Pamrih dapat dikurangi dengan melatih ketulusan, mengurangi kebiasaan menghitung jasa, tidak menjadikan pujian sebagai tujuan utama, dan membiasakan diri memeriksa dorongan sebelum melakukan suatu perbuatan.
Apakah ketulusan berarti tidak boleh mengharapkan hasil?
Tidak. Ketulusan tidak berarti menolak hasil yang wajar dari suatu usaha. Ketulusan berarti tidak menjadikan balasan dari orang lain sebagai syarat utama untuk melakukan kebaikan.
Mengapa pamrih dapat mengganggu ketenteraman?
Karena ketenteraman menjadi bergantung pada balasan dari luar. Ketika balasan tidak sesuai dengan harapan, seseorang mudah merasa kecewa, tidak dihargai, dan kemudian mengeluh, sehingga kebaikan yang dilakukan justru menjadi sumber kegelisahan.
NAWA MALANING CIPTA UTTAMOPADESA

Komentar
Posting Komentar