MALA LALI MARANG KASUNYATAN

lali marang kasunyatan
Cidra sebagai Akar Berbagai Penyimpangan Cipta

Dalam perjalanan kehidupan, manusia tidak hanya berhadapan dengan berbagai keadaan yang datang dari luar dirinya, tetapi juga dengan berbagai dorongan yang tumbuh dari dalam diri dan dapat memengaruhi cara berpikir, merasa, berkehendak, serta bertindak.

Cipta dapat menjadi jernih ketika manusia mampu melihat kehidupan sesuai dengan kenyataan, tetapi cipta juga dapat menjadi keruh ketika manusia lebih mengikuti keinginan pribadi, pandangan sendiri, dan dorongan rasa yang tidak terkendali daripada memahami kehidupan sebagaimana adanya.

Dari keadaan inilah muncul berbagai penyimpangan yang perlahan menjauhkan manusia dari kehidupan yang selaras. Di antara berbagai keadaan tersebut terdapat satu keadaan yang paling mendasar, yaitu Lali Marang Kasunyatan atau Cidra.

Lali Marang Kasunyatan merupakan keadaan ketika manusia terputus dari kesadaran terhadap kenyataan hidup yang mendasar dan melupakan Hyang Manon sebagai Sumber Panguripan.

Dalam keadaan tersebut, manusia tidak lagi menjadikan kenyataan sebagai dasar dalam menata cipta, rasa, dan karsa, tetapi lebih banyak menjadikan keinginan pribadi sebagai ukuran dalam memandang kehidupan.

Karena itu, Lali Marang Kasunyatan tidak hanya dapat dipahami sebagai lupa dalam pengertian biasa, melainkan sebagai keadaan ketika manusia kehilangan arah dasar dalam menjalani kehidupan. Ia masih berpikir, masih merasa, masih berkehendak, dan masih bertindak, tetapi semuanya dapat berjalan semakin jauh dari tatanan kehidupan karena tidak lagi berakar pada pemahaman terhadap kenyataan.

Pengertian Mala Lali Marang Kasunyatan.
Mala Lali Marang Kasunyatan adalah kecenderungan manusia untuk melupakan kenyataan yang menjadi dasar kehidupannya, sehingga cipta lebih mudah dikuasai oleh keinginan, kepentingan, pandangan pribadi, dan dorongan rasa yang tidak tertata.

Kasunyatan dalam pengertian ini bukan sekadar sesuatu yang terlihat oleh mata atau dapat dibuktikan melalui keadaan lahiriah, melainkan kenyataan mendasar mengenai kehidupan, asal kehidupan, keteraturan kehidupan, serta kedudukan manusia sebagai bagian dari kehidupan itu sendiri.

Dalam kerangka Uttamopadesa, manusia tidak berdiri sendiri sebagai pusat segala sesuatu, karena kehidupan mempunyai sumber dan tatanannya sendiri yang perlu dipahami dan dihormati.

Ketika manusia melupakan hal tersebut, dirinya mudah menjadikan kepentingan pribadi sebagai pusat ukuran. Apa yang diinginkan dianggap harus diperoleh, apa yang tidak disukai dianggap harus disingkirkan, dan apa yang berbeda dengan pandangannya mudah dianggap salah. Dari sinilah kejernihan cipta mulai kehilangan landasannya.

Mengapa Lali Marang Kasunyatan Disebut Akar Penyimpangan?
Lali Marang Kasunyatan dapat dipandang sebagai akar karena berbagai penyimpangan cipta lainnya dapat tumbuh ketika manusia tidak lagi berpegang pada kenyataan yang lebih mendasar.

Ketika seseorang lupa bahwa dirinya merupakan bagian dari kehidupan dan mulai menempatkan diri sebagai pusat ukuran, muncullah Pambengkakan Aku, yaitu kecenderungan merasa diri paling benar dan paling utama.

Ketika keinginan pribadi menjadi pusat tindakan, tumbuh Ngluru Ganjaran, yaitu kecenderungan melakukan sesuatu dengan terus mengharapkan hasil tertentu bagi diri sendiri.

Ketika manusia tidak lagi melihat sesamanya sebagai bagian dari kehidupan yang sama, dapat tumbuh Ora Rena Liyan, yaitu ketidakmampuan menerima kebahagiaan atau keberhasilan orang lain.

Dari keadaan cipta yang terus membandingkan dan mempertahankan kepentingan pribadi dapat muncul Sumeru, berupa rasa sengit dan kebencian yang disimpan terhadap orang lain.

Demikian pula Sumedhot dapat tumbuh ketika cipta lebih dikuasai rasa takut daripada kejernihan dalam melihat keadaan.

Salahe Pamawas berkembang ketika manusia lebih percaya kepada prasangka dan tafsiran pribadi daripada berusaha memahami kenyataan secara utuh.

Kepengin Nguasani muncul ketika kehendak pribadi dianggap lebih penting daripada kebebasan orang lain, sedangkan

Kaserakahan tumbuh ketika keinginan untuk memiliki terus berkembang tanpa mengenal batas kecukupan.

Dengan demikian, delapan Mala lainnya dapat dipandang sebagai berbagai bentuk penyimpangan yang tumbuh ketika hubungan manusia dengan kenyataan telah melemah.

Lali Marang Kasunyatan dan Kejernihan Cipta.
Cipta yang tidak lagi berpijak pada kenyataan akan mudah membangun dunianya sendiri berdasarkan keinginan dan penilaian pribadi. Seseorang dapat menganggap sesuatu benar hanya karena sesuai dengan kepentingannya, menganggap orang lain salah hanya karena berbeda pandangan, atau mengejar sesuatu tanpa mempertimbangkan apakah yang dikejarnya benar-benar membawa kebaikan bagi kehidupannya.

Dalam keadaan seperti itu, cipta bukan lagi menjadi sarana untuk memahami kehidupan, tetapi berubah menjadi alat untuk membenarkan kehendak pribadi. Pikiran dapat menghasilkan berbagai alasan untuk membenarkan tindakan, sementara rasa memberikan dorongan dan karsa menjalankan apa yang telah diputuskan.

Karena itu, kejernihan cipta tidak cukup hanya diperoleh dengan memiliki banyak pengetahuan. Pengetahuan dapat menjadi luas, tetapi apabila manusia melupakan kenyataan yang menjadi dasar kehidupannya, pengetahuan tersebut pun dapat digunakan untuk memperkuat kepentingan pribadi.

Kejernihan membutuhkan kesediaan untuk melihat kenyataan dengan jujur, termasuk kenyataan bahwa manusia mempunyai keterbatasan dan bukan pusat dari seluruh kehidupan.

Mengingat Hyang Manon kembali.
Dalam piwulang ini, kembali kepada kasunyatan berkaitan dengan kembali eling terhadap Hyang Manon sebagai Sumber Panguripan. Eling bukan sekadar mengingat nama atau menyebut suatu keyakinan, tetapi merupakan keadaan ketika manusia menyadari kembali dasar kehidupannya sehingga tidak mudah menempatkan kehendak pribadi sebagai ukuran tertinggi.

Kesadaran tersebut mengubah cara manusia memandang dirinya sendiri. Ia tidak lagi merasa sebagai penguasa mutlak atas kehidupan, melainkan memahami bahwa dirinya hidup karena adanya kehidupan yang lebih mendasar daripada dirinya. Dari pemahaman tersebut tumbuh sikap yang lebih rendah hati, lebih berhati-hati dalam bertindak, dan lebih menghargai keberadaan sesama.

Mengingat Hyang Manon dengan demikian bukan berarti manusia harus meninggalkan kehidupan duniawi, melainkan justru menjalani kehidupan dengan lebih selaras karena menyadari bahwa setiap tindakan mempunyai akibat dan setiap kehidupan mempunyai nilai yang perlu dihormati.

Membersihkan Mala Lali Marang Kasunyatan.
Pembersihan Mala Lali Marang Kasunyatan dimulai dari eling marang kasunyatan, yaitu kesediaan untuk kembali melihat kehidupan sebagaimana adanya dan tidak menjadikan keinginan pribadi sebagai satu-satunya ukuran kebenaran.

Manusia perlu belajar membedakan antara kenyataan dan keinginan, antara apa yang benar-benar terjadi dan apa yang hanya merupakan tafsiran cipta, serta antara kebutuhan yang nyata dan dorongan pribadi yang terus menuntut pemenuhan. Semakin mampu melakukan pembedaan tersebut, semakin kecil kemungkinan cipta dikuasai oleh dorongan yang menyimpang.

Selain itu, manusia perlu membiasakan diri memeriksa kembali setiap dorongan sebelum diwujudkan dalam tindakan. Ketika muncul keinginan untuk merasa lebih tinggi, memperoleh ganjaran, tidak senang melihat keberhasilan orang lain, menyimpan kebencian, dikuasai ketakutan, berprasangka, menguasai sesama, atau terus menginginkan lebih banyak, manusia perlu melihat kembali sumber dorongan tersebut dan bertanya apakah semuanya benar-benar selaras dengan kenyataan kehidupan.

Dengan cara demikian, pembersihan tidak hanya dilakukan terhadap satu Mala, tetapi menyentuh akar yang memungkinkan berbagai Mala lainnya berkembang.

Kembali kepada Kasunyatan, Kembali kepada Keselarasan.
Ketika manusia kembali eling terhadap kenyataan dan Hyang Manon sebagai Sumber Panguripan, perubahan tidak berhenti pada cara berpikir, tetapi perlahan memengaruhi seluruh kehidupan. Cipta menjadi lebih mampu melihat keadaan tanpa terlalu cepat dikuasai kepentingan pribadi, rasa menjadi lebih tertata karena tidak terus mengikuti dorongan yang berubah-ubah, karsa menjadi lebih mampu diarahkan kepada tindakan yang bermanfaat, dan laku menjadi lebih selaras dengan tatanan kehidupan.

Dalam keadaan tersebut, manusia tidak berarti menjadi sempurna atau terbebas dari segala keinginan dan kelemahan, tetapi mempunyai kemampuan untuk mengenali ketika dirinya mulai menyimpang dan kembali menata diri.

Inilah bagian penting dari perjalanan menuju kejernihan, karena manusia tidak hanya dituntut untuk mengetahui mana yang baik, tetapi juga perlu terus mengoreksi dirinya ketika cipta, rasa, dan karsa mulai menjauh dari arah yang benar.

Kesembilan Mala sebagai Satu Kesatuan.
Kesembilan Mala sebaiknya tidak dipahami sebagai sembilan persoalan yang berdiri sendiri, karena semuanya mempunyai hubungan yang saling berkaitan dalam kehidupan manusia.

Pambengkakan Aku, Ngluru Ganjaran, Ora Rena Liyan, Sumeru, Sumedhot, Salahe Pamawas, Kepengin Nguasani, dan Kaserakahan dapat berkembang dalam cipta ketika manusia semakin jauh dari kenyataan yang menjadi dasar kehidupannya.

Karena itu, Lali Marang Kasunyatan menempati kedudukan yang mendasar dalam rangkaian ini. Ketika akar diperbaiki, berbagai penyimpangan yang tumbuh darinya menjadi lebih mudah dikenali dan ditata.

Sebaliknya, apabila akar tetap dibiarkan, usaha memperbaiki satu penyimpangan dapat menjadi kurang kokoh karena sumber dorongannya masih tetap ada.

Penutup.
Mala Lali Marang Kasunyatan atau Cidra merupakan akar dari berbagai penyimpangan cipta karena menunjukkan keadaan ketika manusia melupakan kenyataan kehidupan dan terputus dari kesadaran terhadap Hyang Manon sebagai Sumber Panguripan.

Ketika manusia lebih mengikuti keinginan pribadi daripada memahami kenyataan, cipta perlahan kehilangan kejernihannya dan berbagai penyimpangan dapat tumbuh dalam bentuk kesombongan, pamrih, kedengkian, kebencian, ketakutan, prasangka, keinginan menguasai, serta keserakahan.

Membersihkan Lali Marang Kasunyatan berarti kembali eling terhadap kenyataan, menyadari keterbatasan diri, memahami bahwa kehidupan mempunyai tatanannya sendiri, serta menempatkan cipta, rasa, dan karsa agar tidak berjalan semata-mata menurut kehendak pribadi.

Ketika manusia kembali kepada kasunyatan, cipta menjadi lebih bening, rasa menjadi lebih halus, karsa menjadi lebih utama, dan laku menjadi lebih selaras dengan tatanan kehidupan.

Dengan demikian, pembersihan Mala bukan sekadar usaha menghilangkan sifat-sifat yang dianggap buruk, tetapi merupakan perjalanan untuk mengembalikan manusia kepada dasar kehidupan yang benar, sehingga budi dapat kembali menjadi daya yang menuntun seluruh perilaku menuju kehidupan yang lebih selaras dan bermakna.

FAQ - Mala Lali Marang Kasunyatan.
1. Apa yang dimaksud dengan Mala Lali Marang Kasunyatan?
Mala Lali Marang Kasunyatan atau Cidra adalah keadaan ketika manusia melupakan kenyataan mendasar kehidupan dan Hyang Manon sebagai Sumber Panguripan, sehingga cipta lebih mudah dikuasai oleh keinginan dan pandangan pribadi.

2. Mengapa Lali Marang Kasunyatan disebut akar berbagai penyimpangan cipta?
Karena ketika manusia kehilangan kesadaran terhadap kenyataan yang mendasari kehidupannya, ia lebih mudah menjadikan kepentingan pribadi sebagai ukuran utama, sehingga berbagai penyimpangan seperti kesombongan, pamrih, kedengkian, kebencian, ketakutan, prasangka, keinginan menguasai, dan keserakahan dapat berkembang.

3. Apa hubungan Lali Marang Kasunyatan dengan Hyang Manon?
Lali Marang Kasunyatan menunjukkan keadaan ketika manusia melupakan Hyang Manon sebagai Sumber Panguripan, sedangkan kembali kepada kasunyatan berarti kembali eling terhadap sumber kehidupan dan memahami bahwa manusia bukan pusat mutlak dari seluruh kehidupan.

4. Apakah kembali kepada kasunyatan berarti meninggalkan kehidupan duniawi?
Tidak, karena kembali kepada kasunyatan justru berarti menjalani kehidupan dengan lebih selaras, menggunakan cipta, rasa, dan karsa secara tepat, serta menjalankan kehidupan sehari-hari dengan menyadari tatanan dan akibat dari setiap tindakan.

5. Bagaimana cara membersihkan Mala Lali Marang Kasunyatan?
Pembersihannya dilakukan dengan kembali eling terhadap kenyataan, membedakan kenyataan dari keinginan dan prasangka, menyadari keterbatasan diri, serta terus memeriksa apakah cipta, rasa, dan karsa telah berjalan selaras dengan kehidupan.

6. Apakah Lali Marang Kasunyatan berarti manusia tidak boleh mempunyai keinginan?
Tidak, karena keinginan merupakan bagian dari kehidupan manusia, tetapi keinginan perlu ditata agar tidak menjadi penguasa cipta dan tidak membuat manusia melupakan kenyataan, kepentingan sesama, serta tatanan kehidupan.

7. Apa perubahan yang terjadi ketika manusia kembali eling terhadap kasunyatan?
Ketika manusia kembali eling terhadap kasunyatan, cipta menjadi lebih jernih dalam melihat kehidupan, rasa lebih tertata dalam menghadapi keadaan, karsa lebih mampu diarahkan kepada tindakan yang baik, dan laku menjadi lebih selaras dengan tatanan kehidupan.

8. Apakah delapan Mala lainnya berhubungan dengan Lali Marang Kasunyatan?
Ya, dalam rangkaian ini delapan Mala lainnya dapat dipahami sebagai berbagai bentuk penyimpangan yang dapat berkembang ketika manusia semakin jauh dari kenyataan yang mendasari kehidupannya, sehingga Lali Marang Kasunyatan ditempatkan sebagai akar yang perlu dikenali dan dibersihkan.

**Sumber artikel :
NAWA MALANING CIPTA UTTAMOPADESA  

Komentar