MALA KESERAKAHAN

mala kaserakahan

Ora Wareg sebagai Penghalang Kejernihan Cipta

Dalam kehidupan, manusia mempunyai berbagai kebutuhan yang harus dipenuhi agar dapat menjalani hidup dengan baik, sehingga keinginan untuk memperoleh makanan, tempat tinggal, pengetahuan, pekerjaan, kesejahteraan, maupun kehidupan yang lebih baik pada dasarnya merupakan bagian yang wajar dari kehidupan manusia.

Keinginan untuk berkembang bahkan dapat menjadi daya yang mendorong seseorang untuk belajar, bekerja, memperbaiki diri, dan menciptakan kehidupan yang lebih bermanfaat.

Namun, keinginan tersebut dapat berubah menjadi persoalan ketika tidak lagi mengenal batas dan tidak pernah menemukan rasa cukup, karena apa pun yang telah dimiliki selalu dianggap belum memadai dan sesuatu yang belum dimiliki terus dibayangkan sebagai sumber kebahagiaan berikutnya.

Keadaan inilah yang disebut Kaserakahan atau Ora Wareg, yaitu kecenderungan untuk terus menginginkan sesuatu meskipun kebutuhan sebenarnya telah terpenuhi.

Dalam keadaan tersebut, seseorang tidak lagi sekadar berusaha memenuhi kebutuhan, melainkan terus mengejar tambahan kepemilikan, kedudukan, pujian, kekuasaan, maupun pengakuan tanpa menemukan titik kecukupan.

Cipta akhirnya selalu tertuju kepada sesuatu yang belum dimiliki, sementara apa yang telah berada dalam genggaman tidak lagi mampu memberikan rasa syukur dan penghargaan yang semestinya.

Pengertian Mala Kaserakahan.
Mala Kaserakahan bukan semata-mata persoalan banyak atau sedikitnya harta benda, karena seseorang dapat memiliki banyak harta tetapi tetap mampu merasa cukup, sementara orang yang memiliki sedikit pun dapat dikuasai oleh rasa tidak pernah puas.

Persoalan utamanya terletak pada keadaan cipta yang terus mengatakan bahwa masih ada sesuatu yang harus dimiliki agar kehidupan terasa lengkap, padahal kebutuhan pokok maupun kebutuhan yang benar-benar penting sebenarnya telah terpenuhi.

Kaserakahan juga dapat muncul dalam bentuk yang lebih halus dan tidak selalu mudah dikenali. Seseorang dapat menjadi ora wareg terhadap kedudukan karena selalu menginginkan jabatan yang lebih tinggi, terhadap pujian karena selalu membutuhkan pengakuan yang lebih besar, terhadap kekuasaan karena selalu ingin mempunyai pengaruh yang lebih luas, atau terhadap perhatian karena merasa belum cukup mendapatkan penghargaan dari orang-orang di sekitarnya.

Dengan demikian, Kaserakahan pada dasarnya adalah keinginan yang kehilangan batas, ketika seseorang tidak lagi mampu membedakan antara kebutuhan dan keinginan yang terus berkembang tanpa ujung.

Bagaimana Kaserakahan Tumbuh?
Kaserakahan sering tumbuh secara perlahan karena pada awalnya keinginan tersebut dapat terlihat sebagai sesuatu yang wajar. Seseorang bekerja untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik, kemudian menginginkan lebih banyak harta setelah kebutuhan terpenuhi, lalu merasa bahwa kepemilikan tersebut masih belum cukup karena melihat keberhasilan orang lain yang dianggap lebih tinggi.

Dari sinilah perbandingan dapat membuat keinginan semakin berkembang dan rasa cukup menjadi semakin menjauh.

Keadaan tersebut menjadi semakin kuat ketika ukuran keberhasilan seseorang hanya didasarkan pada apa yang dimiliki, bukan pada bagaimana sesuatu yang dimiliki itu digunakan dengan baik.

Harta, kedudukan, penghargaan, dan kekuasaan akhirnya tidak lagi menjadi sarana untuk menjalani kehidupan secara bermakna, melainkan berubah menjadi tujuan yang harus terus dikejar.

Ketika seseorang terbiasa mendapatkan sesuatu setiap kali mengikuti dorongan keinginannya, cipta dapat membentuk kebiasaan bahwa kepuasan hanya akan diperoleh melalui tambahan kepemilikan. Akibatnya, setelah satu keinginan terpenuhi, muncul keinginan berikutnya, sehingga kehidupan berjalan dalam lingkaran mengejar, mendapatkan, merasa kurang, lalu mengejar kembali.

Ciri-Ciri Mala Kaserakahan.
Kaserakahan dapat dikenali melalui ketidakmampuan seseorang untuk merasakan kecukupan meskipun keadaan sebenarnya telah memenuhi kebutuhan yang penting dalam kehidupannya. Ia terus merasa kurang, selalu membandingkan apa yang dimilikinya dengan milik orang lain, dan mudah merasa bahwa keberhasilannya belum berarti apabila masih ada orang lain yang mempunyai lebih banyak.

Ciri lainnya adalah sulit menikmati apa yang telah dimiliki karena perhatian selalu tertuju kepada sesuatu yang belum diperoleh. Seseorang mungkin telah mempunyai kehidupan yang baik, tetapi pikirannya terus dipenuhi oleh keinginan untuk memperoleh lebih banyak harta, lebih tinggi kedudukan, lebih besar pengaruh, atau lebih banyak pengakuan.

Kaserakahan juga dapat terlihat melalui kecenderungan mengambil sesuatu melebihi kebutuhan, mempertahankan kepemilikan tanpa mempertimbangkan manfaatnya, serta merasa gelisah ketika kesempatan untuk mendapatkan lebih banyak terbuka di hadapannya.

Dalam keadaan tertentu, dorongan tersebut bahkan dapat membuat seseorang mengabaikan kepentingan orang lain karena keinginannya untuk memperoleh lebih banyak dianggap lebih penting daripada keseimbangan kehidupan bersama.

Dampak Kaserakahan terhadap Cipta.
Cipta yang dikuasai Kaserakahan akan sulit mengalami ketenteraman karena selalu mempunyai sesuatu yang harus dikejar. Setelah mendapatkan apa yang diinginkan, cipta tidak berhenti pada rasa cukup, tetapi segera mencari sasaran berikutnya sehingga kepuasan yang diperoleh hanya berlangsung sementara.

Keadaan tersebut membuat seseorang hidup dalam ketergantungan terhadap sesuatu yang berada di luar dirinya.

Kebahagiaan seolah-olah baru dapat dirasakan apabila jumlah harta bertambah, kedudukan meningkat, pujian datang, atau pengakuan diberikan oleh orang lain. Ketika semua itu tidak terjadi, muncul rasa kecewa, iri, gelisah, dan takut kehilangan.

Pada titik tertentu, seseorang bahkan dapat memiliki banyak hal tetapi tetap merasa miskin secara batin karena cipta tidak mampu mengenali kecukupan. Inilah sebabnya Kaserakahan menjadi salah satu penghalang kejernihan cipta, karena pandangan terhadap kehidupan selalu diarahkan oleh sesuatu yang belum dimiliki.

Kaserakahan Bukan Keinginan untuk Berkembang.
Penting untuk membedakan antara keinginan untuk berkembang dan Kaserakahan.

Keinginan untuk berkembang dapat membawa manusia menjadi lebih baik apabila didasarkan pada kebutuhan yang nyata, kemampuan yang sehat, dan tujuan yang bermanfaat. Seseorang dapat belajar lebih banyak, bekerja lebih baik, meningkatkan kesejahteraan, atau mengembangkan kemampuan tanpa harus kehilangan rasa cukup.

Yang menjadi persoalan adalah ketika perkembangan tidak lagi mempunyai batas dan setiap pencapaian hanya menjadi alasan untuk mengejar pencapaian berikutnya tanpa pernah memberikan ruang bagi diri untuk menikmati, mensyukuri, dan menggunakan apa yang telah diperoleh secara bermakna.

Karena itu, rasa cukup bukan berarti berhenti berkembang. Rasa cukup berarti mampu berkembang tanpa diperbudak oleh keinginan, mampu memiliki tanpa diperbudak oleh kepemilikan, dan mampu memperoleh sesuatu tanpa kehilangan kemampuan untuk mengatakan bahwa apa yang telah ada sebenarnya sudah memadai.

Membersihkan Mala Kaserakahan.
Pembersihan Kaserakahan dimulai dengan belajar mengenali perbedaan antara kebutuhan dan keinginan, karena tidak semua sesuatu yang diinginkan harus dimiliki dan tidak semua kesempatan untuk memperoleh lebih banyak harus selalu diambil.

Kesadaran terhadap batas menjadi penting agar keinginan tidak berkembang menjadi dorongan yang terus-menerus menuntut pemenuhan.

Langkah berikutnya adalah belajar menghargai apa yang telah dimiliki, bukan dengan menolak keinginan untuk maju, tetapi dengan menyadari bahwa kehidupan tidak hanya ditentukan oleh jumlah kepemilikan. Waktu, kesehatan, hubungan yang baik, kesempatan belajar, kemampuan berkarya, serta ketenteraman cipta juga merupakan kekayaan yang sering kali baru disadari ketika seseorang berhenti mengejar sesuatu yang berada di luar dirinya.

Sikap menggunakan apa yang dimiliki untuk kebaikan juga menjadi bagian penting dalam membersihkan Kaserakahan. Harta akan memiliki nilai yang lebih bermakna apabila digunakan secara tepat, pengetahuan menjadi lebih berarti apabila dibagikan, kedudukan menjadi luhur apabila digunakan untuk memberi manfaat, dan kekuasaan menjadi bernilai apabila tidak digunakan untuk kepentingan diri sendiri semata.

Rasa Cukup sebagai Bentuk Kekayaan Sejati.
Rasa cukup bukan keadaan ketika seseorang tidak mempunyai keinginan sama sekali, melainkan kemampuan untuk menempatkan keinginan pada batas yang sehat. Orang yang merasa cukup tetap dapat bekerja, belajar, berkarya, dan berkembang, tetapi ia tidak menggantungkan nilai dirinya pada seberapa banyak yang berhasil dikumpulkan.

Kekayaan sejati dengan demikian tidak hanya dapat diukur dari banyaknya harta, luasnya kekuasaan, tingginya kedudukan, atau besarnya pengakuan yang diterima, tetapi juga dari kemampuan seseorang menggunakan apa yang dimilikinya secara bijaksana dan menjalani kehidupan tanpa terus-menerus dikejar oleh rasa kurang.

Ketika cipta telah mengenal rasa cukup, seseorang dapat menikmati apa yang dimiliki tanpa harus selalu membandingkannya dengan milik orang lain. Ia dapat menerima keberhasilan tanpa menjadi sombong, menerima keterbatasan tanpa merasa rendah, dan terus berkembang tanpa kehilangan ketenteraman.

Penutup.
Mala Kaserakahan atau Ora Wareg mengingatkan bahwa persoalan terbesar bukanlah banyaknya keinginan, melainkan hilangnya batas dalam keinginan tersebut sehingga manusia terus mengejar sesuatu yang belum dimiliki dan melupakan nilai dari apa yang telah berada dalam kehidupannya.

Membersihkan Kaserakahan berarti belajar mengenali batas, membedakan kebutuhan dari keinginan, menghargai apa yang telah dimiliki, serta menggunakan segala sesuatu yang ada untuk kebaikan.

Dengan demikian, seseorang tidak harus berhenti berkembang untuk dapat merasa cukup, karena perkembangan dan kecukupan sebenarnya dapat berjalan bersama ketika keinginan tidak lagi menjadi penguasa cipta.
Kekayaan sejati bukan hanya karena banyaknya kepemilikan, melainkan kemampuan untuk merasa cukup, menggunakan apa yang dimiliki dengan bijaksana, dan menjadikan kehidupan sebagai sesuatu hal yang bermakna.
FAQ - Mala Kaserakahan, ora wareg.
1. Apa yang dimaksud dengan Mala Kaserakahan?
Mala Kaserakahan atau Ora Wareg adalah kecenderungan untuk tidak pernah merasa cukup dengan apa yang telah dimiliki sehingga keinginan terus berkembang meskipun kebutuhan sebenarnya telah terpenuhi.

2. Apakah Kaserakahan hanya berkaitan dengan harta?
Tidak, karena Kaserakahan juga dapat muncul dalam keinginan terhadap kedudukan, pujian, kekuasaan, perhatian, pengaruh, dan pengakuan yang tidak pernah menemukan titik kecukupan.

3. Apakah keinginan untuk memiliki lebih banyak selalu merupakan keserakahan?
Tidak, karena keinginan untuk berkembang dan meningkatkan kehidupan merupakan hal yang wajar selama masih mempunyai tujuan, batas, dan pertimbangan yang sehat. Keserakahan muncul ketika keinginan kehilangan batas dan seseorang tidak lagi mampu merasa cukup.

4. Mengapa Kaserakahan mengganggu kejernihan cipta?
Kaserakahan membuat cipta terus tertuju kepada sesuatu yang belum dimiliki sehingga sulit menghargai apa yang telah ada, mudah membandingkan diri dengan orang lain, dan terus merasa kurang meskipun kebutuhan sebenarnya telah terpenuhi.

5. Bagaimana cara membersihkan Mala Kaserakahan?
Pembersihannya dilakukan dengan mengenali batas kebutuhan, membedakan kebutuhan dan keinginan, menghargai apa yang telah dimiliki, serta menggunakan harta, kemampuan, kedudukan, dan kesempatan untuk menghasilkan kebaikan.

6. Apakah merasa cukup berarti berhenti berkembang?
Tidak, karena merasa cukup berarti mampu berkembang tanpa diperbudak oleh keinginan. Seseorang tetap dapat belajar, bekerja, dan mencapai sesuatu yang lebih baik sambil tetap menghargai apa yang telah dimilikinya.

7. Apa hubungan rasa cukup dengan kekayaan sejati?
Rasa cukup membuat seseorang mampu menikmati dan menggunakan apa yang dimiliki secara bermakna, sehingga kekayaan tidak hanya dipahami sebagai banyaknya kepemilikan, tetapi juga sebagai kemampuan menjalani kehidupan dengan bijaksana dan tidak terus-menerus dikuasai oleh rasa kurang.

**Sumber artikel :
NAWA MALANING CIPTA UTTAMOPADESA  

Komentar