KETENTRAMAN DALAM HUBUNGAN DENGAN SESAMA

nawa prasanti batin
Nawa Prasanti Batin dan Ketenteraman dalam Hubungan dengan Sesama

Ketenteraman batin sering dianggap sebagai keadaan yang sepenuhnya berada di dalam diri manusia. Seseorang merasa tenang, pikirannya tidak terlalu gelisah, dan perasaannya lebih tertata.

Namun ketenteraman yang demikian belum sepenuhnya menunjukkan kedalaman laku apabila tidak tercermin dalam cara seseorang berhubungan dengan sesama.

Dalam Nawa Prasanti Batin, kualitas batin tidak hanya dilihat dari apa yang dirasakan seseorang ketika sendirian. Kualitas tersebut juga dapat dilihat dari cara ia memperlakukan orang lain, menghadapi perbedaan, menggunakan kelebihan, menerima kekurangan, dan menempatkan dirinya di tengah kehidupan.

Karena itu terdapat prinsip:

“Kasunyataning Laku katon lumantar Asih mring Sesami.”

Prinsip ini sangat penting karena menjadikan hubungan dengan sesama sebagai salah satu cermin kenyataan laku.

Ketenteraman bukan menjauh dari kehidupan.
Orang yang ingin memperoleh ketenteraman terkadang membayangkan bahwa jalan terbaik adalah menjauh dari semua persoalan.

Padahal manusia hidup bersama manusia lain. Ada keluarga, tetangga, sahabat, rekan kerja, masyarakat, dan berbagai hubungan yang tidak mungkin dihindari.

Perbedaan pendapat adalah bagian dari kehidupan. Perbedaan kepentingan juga tidak dapat dihapus sepenuhnya.

Karena itu ketenteraman bukan berarti hidup tanpa perbedaan. Ketenteraman berarti mampu berada di tengah perbedaan tanpa kehilangan kejernihan cipta, ketulusan rasa, dan keluhuran karsa.

Di sinilah ketenteraman batin diuji.

Ketika seseorang sendirian, ia mungkin merasa dirinya sangat sabar. Tetapi ketika berhadapan dengan orang yang berbeda pendapat, sifat tersebut baru benar-benar dapat dilihat.

Ketika tidak ada yang menyinggung dirinya, ia mungkin merasa telah mampu mengendalikan diri. Namun ketika mendapat perkataan yang menyakitkan, kualitas laku menjadi nyata.

Asih mring sesami.
Prinsip keempat Nawa Prasanti Batin menempatkan asih sebagai tanda penting:

“Kasunyataning Laku katon lumantar Asih mring Sesami.”

Asih tidak harus diwujudkan melalui tindakan besar. Asih dapat hadir dalam kehidupan sehari-hari melalui kesediaan mendengarkan, menghargai, membantu, tidak merendahkan, dan tidak sengaja menyakiti.

Asih juga berarti mampu melihat sesama sebagai bagian dari kehidupan, bukan hanya sebagai alat untuk memenuhi kepentingan pribadi.

Seseorang yang memiliki jabatan dapat menggunakan kedudukannya untuk membantu atau justru menekan. Seseorang yang memiliki pengetahuan dapat menggunakannya untuk menerangi atau mempermalukan. Seseorang yang memiliki kekayaan dapat menggunakannya untuk berbagi atau untuk menunjukkan keunggulan.

Yang membedakan bukan sekadar apa yang dimiliki, tetapi bagaimana sesuatu tersebut digunakan.

Prasaja sebagai tanda ketenteraman.
Prinsip kelima berbunyi:

“Kasunyataning Laku katon lumantar Prasaja ing Tindak Tanduk.”

Prasaja memiliki kedudukan penting dalam hubungan sosial karena manusia sering merasa perlu menunjukkan kelebihannya kepada orang lain.

Keinginan untuk dipuji dapat membuat seseorang berbicara terlalu banyak mengenai dirinya. Keinginan untuk dianggap penting dapat membuatnya merendahkan orang lain. Keinginan untuk memperoleh pengakuan dapat membuat kehidupan berubah menjadi perlombaan tanpa akhir.

Prasaja memutus kebutuhan tersebut.

Orang yang prasaja tidak berarti tidak memiliki kemampuan. Ia dapat berilmu, berhasil, berkecukupan, atau memiliki kedudukan. Namun semua itu tidak menjadikannya perlu terus-menerus meninggikan diri.

Prasaja membuat hubungan sosial menjadi lebih ringan karena seseorang tidak sibuk membangun citra dirinya di hadapan orang lain.

Selaras dengan tatanan panguripan.
Ketenteraman juga berkaitan dengan keselarasan.

Prinsip keenam:

“Kasunyataning Laku katon lumantar Selaras ing Tatanan Panguripan.”

Manusia hidup dalam jaringan kehidupan yang luas. Apa yang dilakukan seseorang dapat memengaruhi orang lain. Tindakan pribadi dapat membawa akibat kepada keluarga, lingkungan, bahkan kehidupan yang lebih luas.

Karena itu manusia tidak dapat menjadikan keinginannya sendiri sebagai ukuran tunggal.

Selaras bukan berarti selalu mengikuti keinginan orang lain. Selaras berarti mampu menempatkan kehendak pribadi dalam hubungan dengan tatanan kehidupan.

Seseorang dapat mempertahankan pendapatnya tanpa menghina orang lain. Ia dapat memperjuangkan kepentingannya tanpa merampas hak sesamanya.

Ia dapat menggunakan kebebasannya tanpa merusak kehidupan bersama.

Tidak ngendelake nalar kumingsun.
Dalam kehidupan sosial, banyak pertentangan muncul bukan karena manusia tidak memiliki nalar, tetapi karena manusia terlalu mengandalkan nalar yang disertai rasa kumingsun.

Prinsip ketujuh menyatakan:

“Kasunyataning Laku katon lumantar Nora Ngendelake Nalar Kumingsun.”

Nalar diperlukan untuk membedakan, menimbang, dan memahami. Namun nalar yang dikuasai kesombongan dapat membuat seseorang merasa paling mengetahui.

Orang seperti itu sulit menerima masukan. Ia menganggap perbedaan sebagai ancaman terhadap dirinya. Ia lebih ingin menang dalam perdebatan daripada menemukan kebenaran.

Tidak ngendelake nalar kumingsun bukan berarti meninggalkan nalar. Sebaliknya, manusia menggunakan nalar dengan kerendahan hati.

Ia dapat mengatakan, “Saya belum tentu benar.”

Kalimat sederhana tersebut dapat menjadi dasar hubungan sosial yang jauh lebih sehat.

Ngrumangsani wewatesaning panguripan janma.
Prinsip kedelapan nantinya membawa manusia kepada kesadaran mengenai batas:

“Kasunyataning Laku bisa katon lumantar Ngrumangsani Wewatesaning Panguripan Janma.”

Manusia memiliki batas pengetahuan, kemampuan, waktu, dan usia. Menyadari batas membuat manusia tidak terlalu mudah menghakimi orang lain.

Ia memahami bahwa setiap orang sedang menjalani perjalanan hidup dengan keadaan dan kemampuan yang berbeda.

Ngrumangsani wewates juga membuat manusia lebih berhati-hati menggunakan kekuasaan dan kelebihannya.

Orang yang menyadari bahwa hidupnya memiliki batas tidak perlu membangun keunggulan dengan cara merendahkan sesama.

Asihing Sang Sumber Panguripan.
Prinsip kesembilan nantinya memperdalam hubungan manusia dengan kehidupan:

“Kasunyataning Laku katon lumantar Ngendelake Asihing Sang Sumber Panguripan.”

Manusia bukan sumber tunggal kehidupan dirinya sendiri. Kehidupan yang dijalani merupakan bagian dari keberadaan yang lebih luas.

Kesadaran terhadap Sang Sumber Panguripan menumbuhkan rasa rendah hati. Manusia tidak perlu merasa sebagai pusat dari segala sesuatu.

Dari sini asih kepada sesama memperoleh dasar yang lebih dalam. Mengasihi sesama bukan hanya karena orang tersebut menguntungkan, menyenangkan, atau memiliki kedudukan yang sama, melainkan karena sesama merupakan bagian dari kehidupan.

Ketenteraman yang membawa ketenteraman.
Inilah salah satu keistimewaan Nawa Prasanti Batin. Ketenteraman tidak berhenti sebagai pengalaman pribadi.

Jika batin benar-benar semakin tenteram, seharusnya kehadiran seseorang juga tidak terus-menerus menimbulkan kegaduhan.
Bukan berarti ia tidak pernah berbeda pendapat. Bukan berarti ia selalu diam. Bukan berarti ia harus menyenangkan semua orang.

Yang berubah adalah cara menghadapi kehidupan.

Ia dapat tegas tanpa kasar.
Ia dapat berbeda tanpa membenci.
Ia dapat memiliki kelebihan tanpa menyombongkan diri.
Ia dapat menerima kritik tanpa langsung memusuhi.
Ia dapat menolak sesuatu tanpa merendahkan orang yang mengajukannya.

Inilah ketenteraman yang telah menjadi kasunyataning laku.

Penutup.
Nawa Prasanti Batin menunjukkan bahwa ketenteraman sejati tidak dapat dipisahkan dari hubungan manusia dengan sesamanya.
Asih mring sesami, prasaja ing tindak tanduk, selaras ing tatanan panguripan, nora ngendelake nalar kumingsun, ngrumangsani wewatesaning panguripan janma, dan ngendelake asihing Sang Sumber Panguripan bukan sekadar nilai yang baik untuk dibicarakan.

Semuanya merupakan jalan untuk melihat apakah ketenteraman telah benar-benar menjadi bagian dari kehidupan.

Dengan demikian, semakin tenteram batin seseorang, seharusnya semakin luhur pula cara ia hadir di tengah sesama.

Ketenteraman yang sejati tidak hanya membuat diri sendiri lebih damai. Ia juga membuat kehadiran kita tidak menjadi sumber kegelisahan bagi kehidupan di sekitar kita.

FAQ Nawa Prasanti Batin.
Mengapa hubungan dengan sesama menjadi bagian dari Nawa Prasanti Batin?
Karena kualitas batin dapat terlihat dari cara manusia memperlakukan dan menghadapi sesamanya.

Apa hubungan asih dengan ketenteraman?
Asih mengurangi dorongan untuk hidup berdasarkan kebencian, iri, dan pamrih sehingga hubungan dengan sesama menjadi lebih selaras.

Apa arti prasaja dalam kehidupan sosial?
Prasaja berarti tidak berlebihan dan tidak dibuat-buat dalam tindak tanduk, termasuk tidak menjadikan kelebihan diri sebagai alasan untuk merendahkan orang lain.

Apakah hidup tenteram berarti harus menghindari konflik?
Tidak. Ketenteraman memungkinkan manusia menghadapi perbedaan dengan lebih jernih tanpa menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk membenci.

Mengapa manusia perlu ngrumangsani wewatesaning panguripan?
Karena menyadari keterbatasan membuat manusia lebih rendah hati dan tidak mudah memaksakan kehendak.

Apa tanda ketenteraman telah menjadi laku sosial?
Sikap asih, prasaja, selaras, tidak kumingsun, mampu menerima batas, dan tidak mudah menjadikan perbedaan sebagai permusuhan.  

Komentar