Nawa Tatananing Kawruh dan Kawruh Sejati: Dari Mengetahui Menuju Pemahaman
Manusia dapat mengetahui banyak hal tanpa benar-benar memahami maknanya. Ia dapat menghafal berbagai istilah, membaca banyak tulisan, mendengar berbagai wejangan, bahkan mampu menjelaskan suatu ajaran dengan lancar.
Namun banyaknya pengetahuan belum tentu menunjukkan bahwa seseorang telah benar-benar ngaweruhi.
Dalam kerangka Uttamopadesa, perbedaan antara mengetahui dan benar-benar memahami kehidupan merupakan persoalan penting. Kawruh tidak dimaksudkan hanya untuk memperbanyak isi pikiran. Kawruh seharusnya membuat manusia semakin mampu melihat kenyataan, mengenali dirinya, dan memperbaiki laku.
Karena itu, Nawa Tatananing Kawruh Uttamopadesa mempunyai hubungan erat dengan gagasan Kawruh Sejati. Keduanya tidak perlu dipahami sebagai dua hal yang saling berdiri sendiri.
Kawruh Sejati berbicara mengenai pengetahuan yang mengarah kepada kasunyatan, sedangkan Nawa Tatananing
Kawruh membantu melihat bagaimana kawruh tersebut ditata dan ditempatkan dalam kehidupan.
Mengetahui Belum Tentu Ngaweruhi.
Ada perbedaan antara mengetahui sesuatu dengan benar-benar mengerti makna sesuatu tersebut.
Seseorang dapat mengetahui bahwa kesabaran itu baik. Namun ketika menghadapi keadaan yang tidak menyenangkan, ia masih mudah marah. Ia mengetahui pentingnya kesabaran, tetapi pengetahuan tersebut belum sepenuhnya hidup dalam dirinya.
Demikian pula seseorang dapat mengetahui pentingnya kejujuran, tetapi ketika menghadapi kepentingan pribadi, ia masih mencari alasan untuk menyembunyikan kebenaran.
Contoh tersebut menunjukkan bahwa pengetahuan dapat berada pada tingkat pikiran tanpa menjadi bagian dari kehidupan.
Ngaweruhi mempunyai kedalaman yang berbeda. Ketika seseorang benar-benar memahami suatu hal, pemahaman tersebut mulai mempengaruhi cara ia memandang, menilai, memilih, dan bertindak.
Dengan demikian, ukuran kawruh tidak hanya terletak pada kemampuan menjelaskan, tetapi pada perubahan yang terjadi setelah pengetahuan itu dipahami.
Mengapa Kawruh Sejati Membutuhkan Tatanan?
Kawruh yang membahas kehidupan manusia sangat luas. Ada pengetahuan mengenai diri, kehidupan, hubungan antarmanusia, perilaku, rasa, kehendak, dan berbagai persoalan yang muncul dalam kehidupan sehari-hari.
Apabila semua pengetahuan tersebut dipahami secara terpisah tanpa tatanan, manusia dapat mengalami kesulitan melihat hubungan antara satu pemahaman dengan pemahaman lainnya.
Nawa Tatananing Kawruh memberikan kerangka penataan sehingga kawruh dapat dipahami sebagai suatu keseluruhan. Tatanan tersebut penting karena pengetahuan bukan sekadar kumpulan informasi.
Pengetahuan mempunyai hubungan dengan cara manusia memahami dirinya dan menjalani kehidupan.
Sebuah pengetahuan yang baik seharusnya mempunyai arah. Ia membawa manusia dari ketidaktahuan menuju pemahaman, dari pemahaman menuju penghayatan, dan dari penghayatan menuju perubahan laku.
Kawruh Sejati Bukan Sekadar Bahan Pembicaraan.
Salah satu bahaya dalam perjalanan mencari pengetahuan adalah munculnya kebanggaan terhadap pengetahuan itu sendiri. Seseorang dapat merasa lebih tinggi karena mengetahui sesuatu yang tidak diketahui orang lain. Jika hal tersebut terjadi, kawruh justru dapat menjadi sumber kesombongan.
Padahal semakin dalam seseorang memahami kehidupan, seharusnya semakin besar kemampuannya melihat kekurangan diri. Pengetahuan seharusnya membuat manusia lebih berhati-hati dalam menilai orang lain, bukan semakin mudah merasa paling benar.
Kawruh Sejati karena itu tidak semestinya dijadikan alat untuk memenangkan perdebatan. Ia bukan pula sekadar identitas untuk menunjukkan bahwa seseorang memiliki pengetahuan tertentu.
Kawruh Sejati mempunyai nilai ketika ia membuat kehidupan menjadi lebih baik.
Nawa Tatananing Kawruh sebagai Penataan Cara Memahami.
Nawa Tatananing Kawruh dapat dipandang sebagai upaya untuk menghindarkan manusia dari pemahaman yang terpecah-pecah.
Manusia tidak hanya memiliki pikiran. Dalam kehidupannya terdapat cipta, rasa, dan karsa yang saling mempengaruhi. Apa yang dipikirkan dapat mempengaruhi rasa. Apa yang dirasakan dapat mempengaruhi kehendak. Kehendak kemudian dapat diwujudkan menjadi tindakan.
Karena itu, kawruh yang benar tidak cukup hanya dipahami oleh pikiran. Pengetahuan harus mampu memberikan pengaruh yang baik terhadap keseluruhan kehidupan manusia.
Ketika pengetahuan semakin menata cipta, menjernihkan rasa, dan mengarahkan karsa, maka kawruh mulai berfungsi sebagaimana mestinya.
Di sinilah tatanan kawruh mempunyai arti penting.
Dari Pengetahuan Menuju Perubahan.
Perubahan tidak terjadi hanya karena seseorang memperoleh pengetahuan baru. Perubahan terjadi ketika pengetahuan tersebut benar-benar diterima, dipahami, dan dijadikan dasar dalam menjalani kehidupan.
Seseorang yang memahami akibat buruk dari kemarahan, misalnya, tidak otomatis berhenti marah. Ia masih membutuhkan latihan untuk mengenali munculnya kemarahan, memahami penyebabnya, mengendalikan ucapan, dan memilih tindakan yang lebih baik.
Pengetahuan menjadi awal. Laku menjadi pembuktian.
Karena itu, Nawa Tatananing Kawruh tidak semestinya dipahami sebagai perjalanan yang berhenti pada pemahaman. Penataan kawruh justru diperlukan agar pengetahuan dapat menemukan tempatnya dalam kehidupan.
Kawruh Kasunyatan dan Upaya Manusia.
Dalam Uttamopadesa terdapat pula gagasan mengenai Kawruh Kasunyatan, yaitu upaya manusia memahami kasunyatan melalui proses menata dan membersihkan dirinya.
Kawruh Sejati dan Kawruh Kasunyatan mempunyai hubungan yang erat, tetapi tidak perlu disamakan.
Kawruh Sejati menunjuk pada pengetahuan sejati yang menjadi penerang bagi kehidupan, sedangkan Kawruh Kasunyatan berkaitan dengan usaha manusia untuk semakin mendekati kasunyatan melalui pemurnian cipta, rasa, dan karsa.
Nawa Tatananing Kawruh dapat membantu manusia memahami hubungan tersebut secara lebih tertata.
Manusia tidak cukup hanya menerima pengetahuan. Ia perlu mengolah pengetahuan tersebut melalui pengalaman hidup, pemeriksaan diri, dan laku.
Dari proses itu, pemahaman dapat semakin matang.
Ngaweruhi sebagai pendalaman Kawruh
Istilah ngaweruhi penting untuk membedakan pengetahuan yang hanya diketahui dengan pengetahuan yang benar-benar dipahami.
Orang yang mengetahui dapat mengatakan, "Aku tahu."
Orang yang mulai ngaweruhi tidak hanya mampu mengatakan bahwa ia tahu, tetapi juga menunjukkan pemahamannya melalui sikap.
Ia tidak perlu terus-menerus menyatakan bahwa dirinya memahami kasih, karena kasih terlihat dalam caranya memperlakukan sesama. Ia tidak perlu terus mengatakan bahwa dirinya memahami kejujuran, karena kejujuran terlihat dalam pilihan hidupnya.
Dengan demikian, ngaweruhi bukan sekadar bertambahnya pengetahuan. Ngaweruhi adalah bertambahnya kedalaman pemahaman yang membawa perubahan pada kehidupan.
Tatanan Kawruh sebagai Jalan Kedewasaan.
Kedewasaan manusia tidak hanya diukur dari usia. Manusia dapat bertambah tua secara jasmani, tetapi belum tentu semakin matang dalam memahami kehidupan.
Kawruh memberikan kemungkinan bagi manusia untuk bertumbuh secara lebih mendalam. Semakin matang kawruhnya, seharusnya semakin matang pula cara berpikir, rasa, pertimbangan, dan tindakannya.
Karena itu, Nawa Tatananing Kawruh dapat dipahami sebagai bagian dari proses pendewasaan manusia melalui pengetahuan yang tertata.
Tujuan akhirnya bukan menjadikan manusia paling banyak tahu, tetapi menjadikannya semakin mampu hidup dengan benar.
Penutup
Nawa Tatananing Kawruh Uttamopadesa menempatkan kawruh dalam suatu tatanan yang mempunyai arah. Kawruh tidak dikumpulkan untuk menjadi kebanggaan, tetapi dipahami supaya dapat menjadi pedoman.
Hubungannya dengan Kawruh Sejati terletak pada tujuan yang sama, yaitu membawa manusia semakin dekat kepada pemahaman yang benar dan semakin mampu mewujudkannya dalam kehidupan.
Karena itu, pertanyaan penting setelah mempelajari kawruh bukanlah "Seberapa banyak yang sudah saya ketahui?"
Pertanyaan yang lebih penting adalah, "Seberapa jauh kawruh tersebut telah mengubah diri dan laku saya?"
Di situlah perbedaan antara mengetahui dan ngaweruhi mulai terlihat.
FAQ Nawa Tatananing Kawruh Uttamopadesa
Apa hubungan Nawa Tatananing Kawruh dengan Kawruh Sejati?
Nawa Tatananing Kawruh membantu menata pemahaman tentang kawruh, sedangkan Kawruh Sejati menjadi pengetahuan yang mengarah kepada kasunyatan dan menjadi penerang kehidupan.
Apa arti ngaweruhi dalam konteks kawruh?
Ngaweruhi menunjuk pada pemahaman yang lebih dalam daripada sekadar mengetahui. Pemahaman tersebut mulai terlihat dalam cara berpikir, merasa, memilih, dan bertindak.
Apakah orang yang banyak tahu pasti memiliki Kawruh Sejati?
Belum tentu. Banyaknya pengetahuan tidak otomatis menunjukkan kedalaman pemahaman maupun perubahan laku.
Mengapa kawruh harus diwujudkan dalam laku?
Karena tujuan kawruh bukan sekadar menambah isi pikiran, melainkan membantu manusia menjalani kehidupan dengan lebih baik dan benar.
Apa hubungan Kawruh Kasunyatan dengan Nawa Tatananing Kawruh?
Kawruh Kasunyatan merupakan usaha manusia untuk memahami kasunyatan melalui pemurnian diri, sedangkan Nawa Tatananing Kawruh membantu menata pemahaman mengenai kawruh tersebut.
Apakah Nawa Tatananing Kawruh merupakan ajaran yang berdiri sendiri?
Dalam kerangka Uttamopadesa, Nawa Tatananing Kawruh lebih tepat dipahami sebagai bagian dari keseluruhan tatanan kawruh yang saling berhubungan.
Apa tanda kawruh sudah mulai matang?
Salah satunya adalah perubahan pada laku: semakin mampu mengendalikan diri, semakin jernih dalam berpikir, semakin tertata dalam rasa, dan semakin baik dalam bertindak.

Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar dengan sopan, jangan spam.