Dalam Nawa Sembah Uttamopadesa, Sembah Manunggal merupakan tataran kesembilan sekaligus puncak dari seluruh perjalanan sembah. Setelah manusia menata raga, menjernihkan cipta, meweningkan rasa, mengarahkan karsa, mengembangkan budi, menyelaraskan sukma, memperdalam kawruh, dan memahami jatining dhiri, perjalanan tersebut mencapai keadaan ketika seluruh unsur kehidupan semakin selaras.
Manunggal dalam pengertian Uttamopadesa tidak berarti manusia menjadi satu hakikat dengan Hyang Manon. Manusia tetap manusia dan Hyang Manon tetap Hyang Manon. Yang dimaksud dengan manunggal adalah tercapainya keselarasan antara kehidupan manusia dengan kehendak Hyang Manon.
Keselarasan tersebut terlihat dalam kehidupan nyata. Pikiran, perasaan, kehendak, pertimbangan, perkataan, dan tindakan tidak lagi saling bertentangan. Apa yang diyakini sebagai kebaikan semakin sesuai dengan apa yang dikatakan dan dilakukan.
Karena itu, Sembah Manunggal bukan sekadar pengalaman batin. Ukuran utamanya terlihat dari watak dan perilaku manusia dalam menjalani kehidupan.
Manunggal sebagai Keselarasan.
Kata manunggal sering dipahami sebagai keadaan menjadi satu. Namun, dalam Nawa Sembah Uttamopadesa, maknanya perlu ditempatkan secara tepat.
Manunggal bukan peleburan manusia dengan Hyang Manon. Manusia tidak berubah menjadi Hyang Manon, dan Hyang Manon tidak berubah menjadi manusia. Manunggal menunjuk pada keselarasan.
Manusia berusaha menyelaraskan cipta, rasa, karsa, budi, sukma, dan cetana dengan kehendak Hyang Manon. Dengan keselarasan tersebut, kehidupan tidak lagi diarahkan semata-mata oleh kepentingan pribadi, tetapi oleh kebaikan, kasih, kebijaksanaan, dan tanggung jawab terhadap kehidupan.
Jadi, yang berubah bukan hakikat manusia menjadi sesuatu yang lain, melainkan cara manusia menjalani kehidupannya.
Puncak dari Sembilan Tataran.
Sembah Manunggal tidak dapat dipisahkan dari delapan tataran sebelumnya.
Sembah Raga menata kehidupan lahir melalui tindakan nyata.
Sembah Cipta menjernihkan pikiran dari berbagai hal yang mengaburkan kenyataan.
Sembah Rasa menata perasaan agar tumbuh kasih, kepedulian, dan welas asih.
Sembah Karsa mengarahkan kehendak agar tidak dikuasai kepentingan pribadi.
Sembah Budi mengembangkan kemampuan mempertimbangkan sesuatu secara bijaksana.
Sembah Sukma menyelaraskan cipta, rasa, dan karsa.
Sembah Kawruh mengubah pengetahuan menjadi pemahaman melalui pengalaman, pengamatan, dan mawas diri.
Sembah Jati membawa manusia semakin memahami jatining dhiri sebagai bagian dari panguripan yang bersumber dari Hyang Manon.
Seluruh perjalanan tersebut kemudian bermuara pada Sembah Manunggal.
Karena itu, Manunggal bukan keadaan yang muncul secara tiba-tiba. Ia merupakan hasil dari proses penataan yang dilakukan secara terus-menerus.
Hilangnya Pertentangan dalam Diri.
Salah satu tanda penting Sembah Manunggal adalah semakin berkurangnya pertentangan antara apa yang dipikirkan, dirasakan, dikatakan, dan dilakukan.
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia terkadang mengetahui sesuatu sebagai kebaikan, tetapi melakukan hal yang berlawanan. Ia dapat berbicara tentang kejujuran tetapi menyembunyikan kebenaran ketika menguntungkan dirinya. Ia dapat berbicara tentang kasih tetapi menyimpan kebencian terhadap orang lain.
Keadaan semacam itu menunjukkan belum adanya keselarasan.
Sembah Manunggal mengarahkan manusia untuk mengurangi pertentangan tersebut.
Apa yang dipahami melalui cipta berusaha diwujudkan melalui karsa. Apa yang dirasakan melalui rasa menjadi dasar kepedulian.
Apa yang dipertimbangkan melalui budi diterapkan dalam tindakan.
Dengan demikian, kehidupan menjadi lebih utuh.
Tidak Lagi Hidup dengan Dua Wajah.
Manunggal juga berarti meninggalkan kehidupan yang penuh kepura-puraan.
Manusia dapat membangun citra tertentu di hadapan orang lain, sementara kehidupan sebenarnya berbeda. Di depan orang lain ia dapat terlihat baik, tetapi ketika tidak ada yang melihat, tindakannya justru bertentangan dengan apa yang dikatakannya.
Sembah Manunggal mengarahkan manusia menuju kesatuan watak.
Kebaikan tidak hanya ditampilkan ketika ada yang melihat. Kejujuran tidak hanya dijalankan ketika memberikan keuntungan.
Kasih tidak hanya diberikan kepada orang yang disukai.
Keselarasan diuji justru ketika tidak ada penghargaan, ketika menghadapi kesulitan, atau ketika melakukan kebaikan tidak memberikan keuntungan pribadi.
Manusia yang semakin mencapai keselarasan tidak membutuhkan dua wajah. Wataknya semakin sama dalam berbagai keadaan.
Kasih sebagai Wujud Manunggal.
Kasih kepada sesama menjadi salah satu wujud nyata Sembah Manunggal.
Kasih tidak hanya berupa perasaan, tetapi diwujudkan dalam cara memperlakukan kehidupan.
Manusia menghargai sesama, tidak merendahkan, tidak memanfaatkan kelemahan orang lain, dan bersedia membantu sesuai dengan kemampuannya.
Kasih juga tidak terbatas kepada orang yang memberikan keuntungan. Ketika manusia memahami bahwa dirinya merupakan bagian dari panguripan, ia semakin menyadari adanya keterkaitan antara kehidupan dirinya dan kehidupan sesama.
Karena itu, menjaga kehidupan menjadi bagian dari pangabekti.
Kebijaksanaan dalam Bertindak.
Manunggal juga tampak dalam kebijaksanaan.
Kebijaksanaan bukan hanya kemampuan mengetahui banyak hal. Kebijaksanaan terlihat dari kemampuan memilih tindakan yang tepat sesuai keadaan.
Manusia yang bijaksana tidak mudah bertindak berdasarkan dorongan sesaat. Ia mempertimbangkan keadaan, akibat, kepentingan sesama, dan nilai kebaikan.
Ketika harus bersikap tegas, ia dapat bersikap tegas tanpa kebencian. Ketika harus mengalah, ia mampu mengalah tanpa merasa hina.
Ketika harus mengambil keputusan, ia tidak semata-mata mengikuti kepentingan dirinya.
Budi, rasa, cipta, dan karsa bekerja bersama dalam menentukan tindakan.
Ketulusan dalam Mengabdi.
Sembah Manunggal juga diwujudkan melalui ketulusan dalam mengabdi.
Pengabdian tidak harus berupa tindakan besar. Setiap pekerjaan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh, jujur, dan bermanfaat dapat menjadi bagian dari pengabdian kepada kehidupan.
Ketulusan berarti tidak menjadikan setiap kebaikan sebagai alat untuk memperoleh pujian.
Manusia tetap dapat menerima penghargaan apabila diberikan, tetapi penghargaan bukan tujuan utama dari perbuatannya.
Ia bekerja karena pekerjaan tersebut perlu dilakukan. Ia membantu karena bantuan tersebut diperlukan. Ia menjaga karena kehidupan perlu dijaga.
Dengan demikian, pengabdian menjadi bagian alami dari kehidupan, bukan sekadar tindakan untuk membangun citra diri.
Tanggung Jawab Menjaga Kehidupan.
Manunggal juga mengandung tanggung jawab. Jika manusia memahami dirinya sebagai bagian dari panguripan, maka ia memiliki tanggung jawab untuk tidak sembarangan merusak kehidupan.
Tanggung jawab tersebut dapat diwujudkan dalam hubungan dengan sesama, keluarga, masyarakat, dan lingkungan.
Menjaga kebersihan, tidak merusak lingkungan, menggunakan sesuatu secara wajar, membantu sesama, serta menghindari tindakan yang membawa kerugian merupakan contoh sederhana dari tanggung jawab tersebut.
Dengan demikian, Sembah Manunggal tidak membuat manusia menjauh dari kehidupan. Sebaliknya, ia membuat manusia semakin hadir dan bertanggung jawab di dalam kehidupan.
Manunggal Bukan Pengalaman Sesaat.
Seseorang dapat mengalami ketenangan atau perasaan yang sangat mendalam pada suatu waktu. Namun, pengalaman tersebut tidak dengan sendirinya menunjukkan bahwa seseorang telah mencapai Sembah Manunggal.
Ukuran yang lebih penting adalah perubahan watak yang bertahan dalam kehidupan sehari-hari.
Apakah ia semakin jujur?
Apakah ia semakin rendah hati?
Apakah ia semakin mampu mengendalikan kepentingan pribadi?
Apakah ia semakin mengasihi sesama?
Apakah perkataan dan tindakannya semakin selaras?
Apakah ia tetap menjalankan kebaikan ketika tidak mendapatkan penghargaan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut lebih penting daripada pengalaman sesaat.
Karena itu, Sembah Manunggal harus dipahami sebagai keselarasan yang hidup dan terus diwujudkan.
Keselarasan dengan Kehendak Hyang Manon.
Dalam pemahaman Uttamopadesa, tujuan tertinggi dari keselarasan tersebut adalah semakin selarasnya kehidupan manusia dengan kehendak Hyang Manon.
Manusia tidak mengetahui seluruh kehendak Hyang Manon secara sempurna. Karena itu, keselarasan bukan alasan untuk mengklaim diri telah mengetahui segala sesuatu.
Sebaliknya, manusia semakin rendah hati dalam menjalani kehidupan.
Ia berusaha memilih kebaikan, menjaga kehidupan, mengembangkan kasih, menggunakan budi secara bijaksana, dan mengurangi segala tindakan yang merugikan sesama.
Dengan cara itulah pengabdian diwujudkan dalam kehidupan nyata.
Sembah Menjadi Bagian dari Seluruh Kehidupan.
Pada tataran Manunggal, sembah tidak lagi dipahami sebagai sesuatu yang hanya dilakukan pada waktu atau tempat tertentu.
Sembah menjadi bagian dari seluruh kehidupan.
Ketika bekerja dengan jujur, manusia sedang mewujudkan pengabdian.
Ketika membantu sesama dengan tulus, ia sedang mewujudkan kasih.
Ketika menjaga lingkungan, ia sedang menjaga kehidupan.
Ketika menahan diri dari tindakan yang merugikan, ia sedang menjalankan tanggung jawab.
Ketika menggunakan budi untuk mengambil keputusan yang baik, ia sedang menjalankan keselarasan.
Dengan demikian, seluruh kehidupan menjadi ruang untuk menjalankan sembah.
Penutup.
Sembah Manunggal, tingkat kesembilan, merupakan puncak dari Nawa Sembah Uttamopadesa. Manunggal tidak berarti manusia menjadi satu hakikat dengan Hyang Manon. Manusia tetap manusia dan Hyang Manon tetap Hyang Manon.
Makna manunggal adalah tercapainya keselarasan antara cipta, rasa, karsa, budi, sukma, dan cetana dengan kehendak Hyang Manon.
Keselarasan tersebut terlihat ketika pertentangan antara pikiran, perasaan, perkataan, dan tindakan semakin berkurang. Manusia tidak lagi hidup dengan dua wajah, mengatakan kebaikan tetapi melakukan kebalikannya.
Kebaikan mulai menjadi bagian dari watak. Kasih diwujudkan dalam hubungan dengan sesama. Kebijaksanaan digunakan dalam mengambil keputusan. Ketulusan menjadi dasar pengabdian. Tanggung jawab diwujudkan melalui usaha menjaga kehidupan.
Karena itu, Sembah Manunggal bukan sekadar pengalaman batin atau keadaan yang hanya dirasakan dalam diri. Keselarasan yang sejati harus terlihat dalam kehidupan nyata.
Puncak sembah bukanlah semakin banyak berbicara tentang kesempurnaan diri, melainkan semakin nyata kebaikan dalam kehidupan.
Manusia yang menjalani Sembah Manunggal tidak perlu menganggap dirinya lebih tinggi daripada orang lain. Justru, semakin selaras kehidupannya, semakin tumbuh kerendahan hati, kasih, kebijaksanaan, dan kesediaan untuk mengabdi.
Dengan demikian, seluruh perjalanan Nawa Sembah Uttamopadesa pada akhirnya kembali kepada kehidupan itu sendiri: menjalani kehidupan dengan cipta yang jernih, rasa yang wening, karsa yang baik, budi yang bijaksana, sukma yang selaras, kawruh yang mendalam, pemahaman tentang jatining dhiri, dan pengabdian yang tulus kepada kehidupan.
FAQ - Sembah Manunggal.
1. Apa yang dimaksud dengan Sembah Manunggal?
Sembah Manunggal adalah tataran kesembilan sekaligus puncak Nawa Sembah Uttamopadesa, ketika cipta, rasa, karsa, budi, sukma, dan cetana semakin selaras dengan kehendak Hyang Manon.
2. Apakah Manunggal berarti manusia menjadi satu dengan Hyang Manon?
Tidak. Dalam pengertian Uttamopadesa, Manunggal bukan peleburan hakikat manusia dengan Hyang Manon. Manunggal berarti keselarasan kehidupan manusia dengan kehendak Hyang Manon.
3. Apa tanda Sembah Manunggal?
Tandanya antara lain semakin selarasnya pikiran, perasaan, perkataan, kehendak, dan tindakan, serta semakin tumbuh kasih, kebijaksanaan, ketulusan, kerendahan hati, dan tanggung jawab.
4. Apakah Sembah Manunggal hanya merupakan pengalaman batin?
Tidak. Sembah Manunggal harus terlihat dalam watak dan perilaku sehari-hari. Pengalaman batin saja tidak cukup untuk menunjukkan keselarasan.
5. Apa maksudnya tidak hidup dengan dua wajah?
Artinya, manusia tidak mengatakan kebaikan tetapi melakukan kebalikannya. Perkataan dan tindakan semakin sesuai sehingga terbentuk kesatuan watak.
6. Bagaimana kasih diwujudkan dalam Sembah Manunggal?
Kasih diwujudkan melalui kepedulian, penghormatan, kesediaan membantu, tidak merugikan sesama, dan menjaga kehidupan tanpa semata-mata mengharapkan balasan.
7. Apa hubungan Sembah Manunggal dengan pengabdian?
Pada tataran ini, sembah menjadi bagian dari seluruh kehidupan. Bekerja dengan jujur, membantu sesama, menjaga lingkungan, dan melakukan kebaikan dengan tulus menjadi bentuk nyata pangabekti.
8. Apakah Sembah Manunggal berarti manusia sudah sempurna?
Tidak. Sembah Manunggal bukan alasan untuk menganggap diri sempurna atau paling tinggi. Justru, semakin dalam keselarasan, semakin tumbuh kerendahan hati dan kesadaran akan keterbatasan diri.
9. Mengapa Sembah Manunggal menjadi tingkat terakhir?
Karena tataran ini menjadi puncak keselarasan seluruh proses Nawa Sembah Uttamopadesa. Raga, cipta, rasa, karsa, budi, sukma, kawruh, dan jati telah diarahkan menuju kehidupan yang selaras dan bermanfaat.
**Sumber artikel :
KAJIAN NAWA SEMBAH UTTAMOPADESA.

Komentar
Posting Komentar