Dalam Nawa Sembah Uttamopadesa, Sembah Jati merupakan tataran kedelapan setelah Sembah Raga, Sembah Cipta, Sembah Rasa, Sembah Karsa, Sembah Budi, Sembah Sukma, dan Sembah Kawruh. Pada tahap ini, perjalanan manusia memasuki pendalaman mengenai jatining dhiri, yaitu hakikat keberadaan dirinya dalam kehidupan.
Sembah Jati bukan sekadar usaha memperoleh pengetahuan tentang diri.
Tataran ini berkaitan dengan pemahaman yang semakin mendalam mengenai siapa manusia, dari mana keberadaannya berasal, dan bagaimana seharusnya kehidupan dijalani setelah memahami kedudukan dirinya sebagai bagian dari panguripan yang bersumber dari Hyang Manon.
Pemahaman tersebut tidak berhenti sebagai gagasan. Nilainya justru terlihat dari perubahan sikap dan perilaku. Semakin manusia memahami jatining dhiri, seharusnya semakin berkurang kesombongan, semakin ringan melepaskan pamrih pribadi, dan semakin kuat keinginannya untuk menjalani kehidupan dengan baik serta selaras.
Memahami Jatining Dhiri.
Jatining dhiri dapat dipahami sebagai kesejatian diri. Pertanyaan mengenai jatining dhiri membawa manusia untuk melihat dirinya lebih dalam daripada sekadar raga, kedudukan, kepemilikan, pekerjaan, atau berbagai peran yang dijalankan dalam kehidupan.
Manusia memiliki banyak sebutan dan kedudukan. Ia dapat menjadi anak, orang tua, saudara, pemimpin, pekerja, anggota masyarakat, dan berbagai peran lainnya.
Namun, semua itu merupakan bagian dari perjalanan kehidupan, bukan keseluruhan hakikat dirinya.
Sembah Jati mengajak manusia melihat lebih jauh.
Ia mulai memahami bahwa keberadaannya merupakan bagian dari panguripan. Kehidupan yang dijalani bukan sesuatu yang berdiri sendiri, melainkan memiliki sumber dan keterkaitan yang lebih luas.
Dalam pemahaman Uttamopadesa, panguripan bersumber dari Hyang Manon. Karena itu, mengenali jatining dhiri juga berarti memahami hubungan antara diri dan sumber kehidupan.
Dari Kawruh Menuju Jati.
Sembah Jati merupakan kelanjutan dari Sembah Kawruh.
Pada Sembah Kawruh, manusia belajar memahami kehidupan melalui pengalaman, pengamatan, mawas diri, dan pembelajaran dari berbagai kejadian.
Pengetahuan tidak lagi sekadar sesuatu yang didengar atau dihafalkan, tetapi mulai menjadi pemahaman yang mempengaruhi kehidupan.
Setelah pemahaman tersebut semakin dalam, muncul pertanyaan mengenai diri sendiri.
Siapa sebenarnya manusia di tengah kehidupan? Apa dasar keberadaannya? Dari mana kehidupan berasal? Untuk apa kehidupan dijalani?
Pertanyaan tersebut membawa kawruh menuju pemahaman yang lebih mendasar mengenai jatining dhiri.
Dengan demikian, Sembah Jati bukan lompatan yang terpisah dari tataran sebelumnya. Ia tumbuh dari proses panjang dalam menata kehidupan, menjernihkan cipta, meweningkan rasa, mengarahkan karsa, mengembangkan budi, menyelaraskan sukma, dan memperdalam kawruh.
Jati Tidak Hanya Dipahami, tetapi Dijalani
Salah satu hal penting dalam Sembah Jati adalah bahwa pemahaman mengenai jatining dhiri tidak cukup hanya diucapkan.
Seseorang dapat mengatakan bahwa manusia merupakan bagian dari kehidupan, tetapi jika kehidupannya masih dipenuhi kesombongan, kebencian, keserakahan, dan pamrih yang berlebihan, maka pemahaman tersebut belum sepenuhnya tercermin dalam perilakunya.
Karena itu, pemahaman jati harus terlihat dalam kehidupan.
Jika manusia memahami bahwa dirinya merupakan bagian dari panguripan, maka ia akan semakin menghargai kehidupan. Ia tidak mudah merusak, menyakiti, atau menggunakan sesama hanya demi kepentingan pribadi.
Pemahaman tersebut perlahan mengubah cara manusia memandang dirinya dan lingkungan sekitarnya.
Berkurangnya Kesombongan.
Salah satu perubahan yang diharapkan dari Sembah Jati adalah berkurangnya kesombongan.
Kesombongan muncul ketika manusia terlalu melekat pada kelebihan yang dimiliki.
Kekayaan, pengetahuan, kedudukan, kemampuan, pengalaman, atau keberhasilan dapat membuat seseorang merasa lebih tinggi daripada orang lain.
Namun, ketika memahami jatining dhiri, manusia mulai menyadari bahwa segala sesuatu yang dimilikinya merupakan bagian dari perjalanan kehidupan.
Kesadaran tersebut menumbuhkan kerendahan hati.
Kerendahan hati bukan berarti menganggap diri tidak memiliki kemampuan. Manusia tetap dapat menggunakan kemampuan dan pengetahuannya. Namun, ia tidak menjadikannya alasan untuk merendahkan sesama.
Semakin memahami kehidupan, semakin manusia menyadari bahwa dirinya hanyalah bagian dari kehidupan yang jauh lebih luas.
Melepaskan Pamrih Pribadi.
Sembah Jati juga berkaitan dengan semakin berkurangnya pamrih pribadi.
Pamrih dapat muncul dalam banyak bentuk.
Manusia dapat berbuat baik karena ingin dipuji, membantu karena mengharapkan balasan, bekerja hanya demi pengakuan, atau melakukan sesuatu agar memperoleh kedudukan tertentu.
Keinginan semacam itu dapat membuat kebaikan menjadi bersyarat.
Dalam Sembah Jati, manusia belajar mengurangi keterikatan tersebut. Kebaikan dilakukan karena memang dipandang sebagai sesuatu yang baik dan bermanfaat bagi kehidupan.
Melepaskan pamrih bukan berarti manusia tidak boleh memiliki tujuan. Manusia tetap membutuhkan tujuan dalam kehidupan. Yang ditata adalah keterikatan terhadap hasil dan keinginan untuk menjadikan segala sesuatu sebagai keuntungan pribadi.
Dengan berkurangnya pamrih, tindakan menjadi lebih tulus.
Memahami Asal Keberadaan.
Sembah Jati juga membawa manusia untuk memahami asal keberadaannya.
Manusia hadir dalam kehidupan bukan atas kehendaknya sendiri. Ia menerima kehidupan dan menjalani kehidupan sebagai bagian dari panguripan.
Dalam pemahaman Uttamopadesa, sumber panguripan adalah Hyang Manon. Pemahaman ini bukan sekadar pengetahuan tentang asal. Ia membawa konsekuensi terhadap cara manusia menjalani hidup.
Jika kehidupan dipahami sebagai bagian dari panguripan yang bersumber dari Hyang Manon, maka kehidupan perlu dijaga dan dijalani dengan sebaik-baiknya.
Manusia tidak hanya memikirkan apa yang ingin diperolehnya, tetapi juga apa yang dapat diberikannya kepada kehidupan.
Memahami Tujuan Keberadaan
Selain asal, manusia juga perlu memahami tujuan keberadaannya.
Kehidupan tidak semestinya hanya diarahkan untuk memperoleh kesenangan, kekayaan, kedudukan, atau pengakuan. Semua itu dapat menjadi bagian dari kehidupan, tetapi bukan satu-satunya ukuran keberhasilan manusia.
Sembah Jati mengarahkan manusia untuk melihat kehidupan secara lebih luas.
Tujuan keberadaan semakin dipahami melalui upaya menjalani kehidupan dengan baik, menjaga keselarasan, memberikan manfaat, dan tidak menjadi sumber kerugian bagi kehidupan.
Dengan demikian, pemahaman tentang asal membawa manusia kepada tanggung jawab dalam menjalani kehidupan.
Cipta, Rasa, Budi, dan Karsa dalam Sembah Jati.
Sembah Jati tidak menghapus tataran-tataran sebelumnya. Justru, seluruh hasil penataan sebelumnya semakin digunakan.
Cipta dijaga tetap jernih agar mampu melihat kenyataan dengan tepat.
Rasa dipelihara tetap wening agar kasih, kepedulian, dan penghargaan kepada sesama semakin kuat.
Budi digunakan untuk mempertimbangkan sesuatu secara bijaksana, membedakan yang utama dan tidak utama, serta menentukan tindakan yang baik.
Karsa diarahkan untuk menjalankan kehendak yang bermanfaat bagi kehidupan.
Dengan demikian, Sembah Jati menunjukkan bahwa pemahaman tentang kesejatian diri tidak terpisah dari cara manusia berpikir, merasakan, mempertimbangkan, dan bertindak.
Perubahan Sikap sebagai Ukuran.
Pemahaman Sembah Jati dapat dilihat dari perubahan nyata dalam kehidupan.
Apakah manusia semakin rendah hati?
Apakah ia semakin mampu meninggalkan pamrih?
Apakah ia semakin menghargai kehidupan?
Apakah ia semakin menjaga cipta, rasa, budi, dan karsanya?
Apakah tindakannya semakin memberikan manfaat?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut membantu manusia memeriksa apakah pemahaman mengenai jatining dhiri benar-benar telah menjadi bagian dari kehidupannya.
Dengan demikian, Sembah Jati tidak diukur berdasarkan pengakuan seseorang tentang dirinya, tetapi melalui perubahan watak dan perilaku yang dapat dilihat dalam kehidupan sehari-hari.
Jati dan Hubungan dengan Sesama.
Pemahaman mengenai jatining dhiri juga mempengaruhi hubungan dengan sesama.
Ketika manusia memahami bahwa dirinya merupakan bagian dari panguripan, ia tidak lagi mudah melihat orang lain hanya sebagai pihak yang berbeda atau sebagai sarana untuk memenuhi kepentingannya.
Sesama dipandang sebagai bagian dari kehidupan yang sama-sama perlu dihargai.
Dari pemahaman tersebut tumbuh sikap saling menghormati, kepedulian, kesediaan membantu, dan keinginan untuk menjaga keselarasan.
Dengan demikian, Sembah Jati tidak membuat manusia menjauh dari kehidupan. Sebaliknya, pemahaman jati membuat manusia semakin bertanggung jawab dalam kehidupan bersama.
Menuju Sembah Manunggal.
Sembah Jati merupakan tataran kedelapan. Setelah manusia memahami jatining dhiri dengan semakin mendalam, perjalanan Nawa Sembah Uttamopadesa kemudian menuju tataran terakhir, yaitu Sembah Manunggal.
Sembah Jati menjadi dasar penting menuju tataran tersebut karena manusia telah mulai memahami hubungan dirinya dengan panguripan.
Pemahaman tersebut selanjutnya diarahkan kepada kesatuan yang lebih utuh antara diri, kehidupan, dan sumber panguripan.
Karena itu, Sembah Manunggal bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri. Ia merupakan kelanjutan dari seluruh proses penataan yang telah dilalui sejak Sembah Raga hingga Sembah Jati.
Penutup.
Sembah Jati, tingkat kedelapan, merupakan tataran ketika manusia semakin memahami jatining dhiri, yaitu hakikat keberadaannya sebagai bagian dari panguripan yang bersumber dari Hyang Manon.
Pemahaman tersebut bukan sekadar gagasan atau pengetahuan yang disimpan dalam pikiran. Nilai sebenarnya terlihat dari perubahan kehidupan.
Kesombongan semakin berkurang. Pamrih pribadi semakin ditinggalkan. Kerendahan hati semakin tumbuh. Cipta dijaga tetap jernih, rasa dipenuhi kasih, budi digunakan secara bijaksana, dan karsa diarahkan kepada tindakan yang bermanfaat.
Manusia mulai memahami bahwa kehidupan bukan hanya tentang apa yang dapat diperoleh untuk dirinya sendiri. Kehidupan juga mengandung tanggung jawab untuk menjaga keselarasan dan memberikan manfaat kepada sesama serta lingkungan.
Sembah Jati dengan demikian menjadi pendalaman dari seluruh laku sebelumnya.
Raga telah ditata, cipta dijernihkan, rasa diweningkan, karsa diarahkan, budi dikembangkan, sukma diselaraskan, dan kawruh diperdalam.
Semua itu kemudian membawa manusia semakin dekat kepada pemahaman tentang jatining dhiri.
Ketika pemahaman tersebut semakin matang, manusia tidak lagi mudah dikuasai kesombongan dan pamrih. Ia semakin mampu menjalani kehidupan dengan sederhana, tulus, bijaksana, dan bertanggung jawab.
Dari sinilah terbuka jalan menuju tataran terakhir, yaitu Sembah Manunggal, sebagai puncak perjalanan Nawa Sembah Uttamopadesa.
FAQ - Sembah Jati.
1. Apa yang dimaksud dengan Sembah Jati?
Sembah Jati adalah tataran kedelapan dalam Nawa Sembah Uttamopadesa yang mengarahkan manusia untuk semakin memahami jatining dhiri atau hakikat keberadaannya.
2. Apa yang dimaksud dengan jatining dhiri?
Jatining dhiri adalah kesejatian diri, yaitu pemahaman yang lebih mendalam mengenai keberadaan manusia sebagai bagian dari panguripan yang bersumber dari Hyang Manon.
3. Apakah Sembah Jati hanya berupa pemahaman?
Tidak. Pemahaman mengenai jatining dhiri seharusnya terlihat dalam perubahan sikap dan perilaku, seperti berkurangnya kesombongan, pamrih, dan kepentingan diri yang berlebihan.
4. Apa hubungan Sembah Jati dengan Sembah Kawruh?
Sembah Kawruh mengembangkan pemahaman melalui pengalaman, pengamatan, dan mawas diri. Pemahaman tersebut kemudian membawa manusia untuk mengenali jatining dhiri melalui Sembah Jati.
5. Mengapa kesombongan semakin berkurang dalam Sembah Jati?
Karena manusia semakin menyadari bahwa dirinya merupakan bagian dari kehidupan yang luas dan tidak berdiri sendiri. Kesadaran tersebut menumbuhkan kerendahan hati.
6. Apakah Sembah Jati berarti meninggalkan kehidupan duniawi?
Tidak. Sembah Jati justru mengarahkan manusia untuk menjalani kehidupan dengan lebih baik, bertanggung jawab, dan memberikan manfaat bagi kehidupan bersama.
7. Bagaimana Sembah Jati terlihat dalam kehidupan sehari-hari?
Sembah Jati terlihat melalui cipta yang jernih, rasa yang penuh kasih, budi yang bijaksana, karsa yang baik, kerendahan hati, berkurangnya pamrih, dan perilaku yang bermanfaat.
8. Apa hubungan Sembah Jati dengan Hyang Manon?
Dalam pemahaman Uttamopadesa, manusia merupakan bagian dari panguripan yang bersumber dari Hyang Manon. Pemahaman mengenai jatining dhiri membawa manusia semakin memahami hubungan tersebut.
9. Apa tataran setelah Sembah Jati?
Sembah Jati merupakan tataran kedelapan dan menjadi dasar menuju tataran terakhir, yaitu Sembah Manunggal.
**Sumber artikel :
KAJIAN NAWA SEMBAH UTTAMOPADESA.

Komentar
Posting Komentar