HAKIKAT NAWA SEMBAH UTTAMOPADESA

hakikat nawa sembah uttamopadesa
Nawa Sembah Uttamopadesa adalah pola sembah ciptaan Dhimas Purnomo dalam kerangka pemikiran Kawruh Uttamopadesa.

Pola ini terdiri atas sembilan tataran pangabekti yang menggambarkan perkembangan manusia dalam menata dan menyelaraskan raga, cipta, rasa, karsa, budi, sukma, kawruh, dan jatining dhiri hingga tercapai keselarasan dengan Hyang Manon.

Nawa Sembah Uttamopadesa merupakan pola sembah yang dirumuskan oleh Dhimas Purnomo dan merupakan bagian dari bangunan pemikiran Kawruh Uttamopadesa. Istilah, susunan, hubungan antartataran, serta pemaknaan sembah sebagai pangabekti dalam laku kehidupan merupakan bagian dari perumusan tersebut.

Nawa Sembah Uttamopadesa bukan Nawa Widha Bhakti, bukan terjemahan Nawa Widha Bhakti, dan tidak dirumuskan sebagai turunan dari Nawa Widha Bhakti.

Keduanya merupakan konsep yang berbeda meskipun sama-sama menggunakan jumlah sembilan dan berkaitan dengan pengertian bakti atau sembah.

Sembilan Tataran Nawa Sembah Uttamopadesa.

1. Sembah Raga.
Sembah Raga merupakan tataran pertama. Raga ditata agar bersih, tertib, sehat, dan digunakan untuk melakukan tindakan yang baik serta bermanfaat. Pangabekti mulai diwujudkan melalui perilaku nyata dalam kehidupan.

2. Sembah Cipta.
Sembah Cipta merupakan penataan pikiran. Cipta dibersihkan dari kesombongan, prasangka, iri hati, kebencian, dan pikiran yang menyimpang dari kenyataan. Cipta yang jernih menjadi dasar bagi pertimbangan yang tepat.

3. Sembah Rasa.
Sembah Rasa merupakan penjernihan perasaan. Rasa diarahkan agar tumbuh menjadi kepekaan, kasih, ketulusan, welas asih, dan kemampuan memahami keadaan sesama tanpa dikuasai kebencian maupun kepentingan pribadi.

4. Sembah Karsa.
Sembah Karsa merupakan penataan kehendak dan dorongan. Karsa tidak dibiarkan dikuasai oleh keinginan yang hanya mengejar kepentingan diri sendiri, tetapi diarahkan kepada kebaikan, keselarasan, dan manfaat bagi kehidupan.

5. Sembah Budi.
Sembah Budi merupakan pengembangan daya pertimbangan. Budi digunakan untuk membedakan yang benar dan keliru, yang utama dan tidak utama, serta mempertimbangkan akibat dari setiap keputusan dan tindakan.

6. Sembah Sukma.
Sembah Sukma merupakan keselarasan cipta, rasa, dan karsa. Ketiganya tidak lagi berjalan saling bertentangan, tetapi membentuk kehidupan yang wening, tenteram, kukuh, dan tulus dalam menjalankan kebaikan.

7. Sembah Kawruh
Sembah Kawruh merupakan pendalaman pemahaman tentang kehidupan. Kawruh tidak berhenti sebagai pengetahuan yang dihafalkan, tetapi tumbuh melalui pengalaman, paniten, mawas dhiri, dan usaha memahami kasunyatan.

8. Sembah Jati.
Sembah Jati merupakan pemahaman yang semakin dalam mengenai jatining dhiri dan kedudukan manusia dalam panguripan yang bersumber dari Hyang Manon. Pemahaman tersebut diwujudkan melalui perubahan watak dan laku.

9. Sembah Manunggal
Sembah Manunggal merupakan puncak Nawa Sembah Uttamopadesa. Manunggal tidak berarti manusia menjadi satu hakikat dengan Hyang Manon, melainkan tercapainya keselarasan antara cipta, rasa, karsa, budi, sukma, kawruh, dan cetana dengan karsaning Hyang Manon.

Makna Sembah dalam Uttamopadesa.
Kata sembah dalam Nawa Sembah Uttamopadesa tidak semata-mata berarti pemujaan atau pelaksanaan ritual. Sembah dimaknai sebagai pangabekti yang diwujudkan melalui laku kehidupan.

Karena itu, seseorang tidak cukup hanya melakukan sembah secara lahir. Pangabekti harus terlihat dalam cara berpikir, cara merasakan, cara menentukan kehendak, cara mengambil keputusan, cara berbicara, serta cara memperlakukan sesama dan kehidupan.

Dengan pengertian tersebut, Sembah Raga bukan pemujaan terhadap raga, Sembah Cipta bukan pemujaan terhadap pikiran, dan Sembah Rasa bukan pemujaan terhadap perasaan. Masing-masing merupakan tataran penataan unsur kehidupan manusia sebagai bentuk pangabekti.

Nawa Sembah Uttamopadesa Bukan Nawa Widha Bhakti.
Nawa Sembah Uttamopadesa dan Nawa Widha Bhakti adalah dua konsep yang berbeda.

Nawa Sembah Uttamopadesa merupakan pola sembah ciptaan Dhimas Purnomo dalam kerangka Uttamopadesa. Sembilan tatarannya adalah Sembah Raga, Sembah Cipta, Sembah Rasa, Sembah Karsa, Sembah Budi, Sembah Sukma, Sembah Kawruh, Sembah Jati, dan Sembah Manunggal.

Sementara itu, Nawa Widha Bhakti merupakan konsep sembilan bentuk bhakti dalam tradisi Hindu, yang dikenal melalui Srawanam, Kirtanam, Smaranam, Pada Sewanam, Arcanam, Wandanam, Dasyam, Sakhyam, dan Atmanivedanam.

Keduanya mempunyai jumlah yang sama, yaitu sembilan, tetapi isi, susunan, kerangka pemikiran, dan fungsi konseptualnya berbeda.

Nawa Sembah Uttamopadesa bersifat berjenjang. Tataran pertama menjadi dasar bagi tataran berikutnya. Perjalanannya bergerak dari penataan raga menuju penataan cipta, rasa, karsa, budi, sukma, pendalaman kawruh, pemahaman jatining dhiri, dan akhirnya keselarasan dalam Sembah Manunggal.

Karena itu, Nawa Sembah Uttamopadesa tidak tepat disebut sebagai sembilan bentuk ritual atau sembilan cara melakukan pemujaan.

Perbedaan Pokok dengan Nawa Widha Bhakti
Perbedaan pertama terletak pada kepengarangan dan asal perumusan. Nawa Sembah Uttamopadesa adalah pola sembah yang dirumuskan oleh Dhimas Purnomo dalam kerangka Uttamopadesa. Nawa Widha Bhakti merupakan konsep yang telah dikenal dalam tradisi Hindu.

Perbedaan kedua terletak pada bentuknya. Nawa Sembah Uttamopadesa merupakan sembilan tataran yang tersusun secara berjenjang. Nawa Widha Bhakti merupakan sembilan bentuk ekspresi bhakti.

Perbedaan ketiga terletak pada arah pengembangannya. Nawa Sembah Uttamopadesa mengarahkan manusia untuk menata kehidupan melalui raga, cipta, rasa, karsa, budi, sukma, kawruh, dan jatining dhiri. Nawa Widha Bhakti berisi bentuk-bentuk pengabdian atau bhakti kepada Tuhan dalam tradisinya.

Perbedaan keempat terletak pada kedudukan ritual. Nawa Sembah Uttamopadesa tidak menjadikan ritual sebagai inti dari sembah. Ukuran pangabekti terutama harus tampak dalam perubahan watak, perilaku, dan laku kehidupan.

Perbedaan kelima terletak pada makna Manunggal. Dalam Nawa Sembah Uttamopadesa, Manunggal tidak berarti manusia melebur menjadi satu hakikat dengan Hyang Manon. Manunggal berarti tercapainya keselarasan kehidupan manusia dengan karsaning Hyang Manon.

Rumusan Baku.
Untuk menghindari kekeliruan dalam penulisan, kutipan, maupun penjelasan oleh pihak lain, rumusan berikut dapat digunakan sebagai definisi baku:

Nawa Sembah Uttamopadesa adalah pola sembah ciptaan Dhimas Purnomo dalam kerangka Uttamopadesa, yang terdiri atas sembilan tataran pangabekti: Sembah Raga, Sembah Cipta, Sembah Rasa, Sembah Karsa, Sembah Budi, Sembah Sukma, Sembah Kawruh, Sembah Jati, dan Sembah Manunggal. Pola ini menggambarkan perkembangan manusia dalam menata raga, cipta, rasa, karsa, budi, sukma, kawruh, dan jatining dhiri menuju keselarasan dengan Hyang Manon. Nawa Sembah Uttamopadesa merupakan konsep tersendiri dalam Uttamopadesa dan tidak sama dengan Nawa Widha Bhakti.

Dengan rumusan tersebut, identitas Nawa Sembah Uttamopadesa menjadi jelas: penciptanya adalah Dhimas Purnomo, kerangkanya adalah Kawruh Uttamopadesa, dan isinya adalah sembilan tataran pangabekti dalam laku kehidupan.

Kesamaan angka sembilan dengan konsep lain tidak mengubah identitas tersebut. Yang menentukan identitas sebuah konsep adalah rumusan, susunan, makna, kerangka pemikiran, dan konteks perumusannya, bukan semata-mata kesamaan istilah atau jumlah.

identitas penulis

Komentar